INILAH. COM, Jakarta - Melemahnya nilai tukar mata Yuan terhadap rupiah, ternyata tidak sepenuhnya berarti positif. Pasalnya, selama ini China memiliki anomali depresiasi nilai tukar.
"Nilai yuan artifisial (palsu). Selain terhadap rupiah, yuan juga terdepresiasi terhadap Rupee India dan Real Brazil," ujar Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero di Jakarta, Rabu (27/1).
Poltak mengatakan, Januari tahun lalu, nilai yuan terhadap rupiah turun 17 persen. hal tersebut berarti, barang Indonesia yang dijual di China lebih mahal 17 persen. Sebaliknya, barang China yang dijual di Indonesia lebih murah 17 persen. "Ini merugikan Indonesia dalam ACFTA (ASEAN China Free Trade Area)," kata Poltak.
Menurut Poltak, pemerintah China memang memiliki kecendrungan melemahkan nilai tukarnya untuk mendukung ekspor. "Pertumbuhan ekonomi Cina bertumpu pada ekspor," jelas dia.
Dengan begitu, kata dia, pendapatan dari ekspor lebih besar jika mata uang mereka melemah. "Kalau ekspor melemah, mereka kesulitan," ucapnya.
Lebih lanjut Poltak mengatakan, pada akhir 2008 dan awal 2009 perekonomian China terganggu akibat berkurangnya volume ekspor. "Terjadi PHK 20 juta tenaga kerja di industri ekspor," katanya.
Cina menekan nilai tukar dengan membeli dolar Amerika Serikat dalam jumlah masif. "Akibatnya cadangan devisa mereka melonjak jadi US$ 2,3 triliun," ujar Poltak.
Kebijakan depresiasi Yuan Cina ini, tambahnya, bisa digunakan sebagai oleh pemerintah dalam negosiasi ulang perdagangan bebas Asean-Cina. "Bisa negosiasi dengan ajukan term yang menguntungkan Indonesia, misalnya dengan kompensasi berupa permintaan bantuan infrastruktur dari pemerintah Cina, pinjaman lunak, dan sebagainya," papar dia. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !