INILAH.COM, Jakarta Evaluasi 100 hari pemerintahan SBY-Boediono menjadi momentum yang ditunggu publik. Bahkan aksi demo pun disiapkan. Program 100 hari ini jadi justru seolah menyandera pemerintahan SBY-Boediono.
Ketua DPP Partai Golkar Priyo Budi Santoso menilai sebenarnya terlalu singkat menilai pemerintahan SBY-Boediono dalam rentang waktu hanya 100 hari. Meski demikian Partai Golkar menilai belum ada gebrakan yang muncul di pemerintahan SBY-Boediono selama 100 hari.
"Belum ada program yang menjadi gebrakan," tegasnya saat dihubungi di Jakarta, Rabu (27/1)
Priyo menilai banyak waktu yang terbuang selama 100 hari SBY-Boediono karena munculnya hiruk-pikuk politik ditambah dengan persoalan yang justru dimunculkan oleh pemerintah. Wakil Ketua DPR tersebut mencontohkan, kasus penanganan Cicak versus Buaya menjadi berlarut-larut karena tidak tegas respon dari pemerintah.
"Seperti dalam menyelesaikan kasus KPK versus kepolisian, pemerintah justru membentuk tim yang menghabiskan waktu," ujarnya.
Seharusnya, menurut Priyo, pemerintah dengan modal dukungan dari rakyat yang kuat, harus lebih percaya diri dalam membuat gebrakan-gebrakan untuk kepentingan rakyat. "Dengan modal yang sangat kuat pemerintah bisa lebih percaya diri berani membuat gebrakan-gebrakan yang meski tidak populer tapi mensejahterakan rakyat," tegasnya.
Partai Golkar berkomitmen mengawal pemerintahan SBY-Boediono sampai 2014.
Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) terhadap SBY-Boediono dalam kurun waktu 7-20 Januari 2010 menunjukkan terjadi penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja keduanya. LSI mencatat terdapat penurunan kepuasan publik menjadi 70%. Padahal sebelumnya, dalam periode November 2009 sebanyak 75% dan Juni 2009 sebanyak 85%. LSI menilai penurunan kepuasan publik tehadap kinerja SBY-Boediono akibat kasus Cicak-Buaya dan kasus Bank Century.
Sementara Ketua Fraksi Partai Demokrat Anas Urbaningrum menolak jika 100 hari pemerintahan SBY-Boediono diangggap mendapatkan rapor merah. Justru Anas menilai rapor pemerintah selama 100 hari berwarna biru. Yang saya setuju rapor pemberitaan memang tidak biru, tetapi kalau rapor implementasi 100 hari itu biru. tidak merah," tegasnya ditemui di gedung DPR, Jakarta, Rabu (27/1).
Meski demikian, Anas menyebutkan program pemerintah harus didorong lebih cepat agar prohram 100 hari menjadi landasan kebijakan program selama lima tahun ke depan. Ia mencontohkan program pemerintah seperti Ujian Nasional (UN) dinilai masih kurang. Seperti Ujian Nasional, implementasinya kan ada kekurangan-kekurangan. Tetapi buat kami itu bukan alasan untuk Ujian Nasional dibatalkan, ujar Anas yang juga anggota Komisi X (bidang pendidikan).
Sementara pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi UI Aris Yunanto menilai program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono sejatinya meniru program 100 hari di pemerintahan Amerika. Meski bagi Aris, program 100 hari antara Indonesia dan Amerika Serikat terjadi perbedaan. "Seharunya 100 hari menjadi landasan program jangka menengah dan panjang. Serta memberi sinyal ke publik. Nah, 100 hari SBY-Boediono belum menunjukkan hal itu," tegasnya.
Justru Aris melihat, program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono hanya berisi identifikasi masalah, bukan landasan program untuk periode berikutnya. Seharusnya, menurut Aris, identifikasi masalah telah final saat berlangsugnya national summit pada akhir Oktober lalu, atau saat awal-awal pemerintahan SBY-Boediono terbentuk.
"Isi 100 hari SBY-Boediono berisi identifikasi masalah. Seharusnya hal itu telah final saat national summit akhir Oktober lalu, cetusnya.
Program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono jelas pada awalnya beriktikad baik untuk menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam bekerja. Hanya saja, program 100 hari pemerintahan SBY-Boediono justru senyap di tengah hiruk-pikuk politik yang menghangat. Nyaris, daya kejut program selama 100 hari tak terasakan oleh publik. Jika kondisinya demikian, jika berandai-andai, semestinya tak perlu ada program 100 hari pemerintah. Karena justru pemerintah tersandera selama 100 hari ini. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !