inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

SBY Perlu Hati-hati Agar tak Jatuh Seperti Thaksin

Headline
Presiden SBY - inilah.com/Dokumen
Oleh: Ahluwalia
Kamis, 28 Januari 2010 | 07:27 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Hiruk-pikuk Bank Century telah mengharu-biru parlemen, mahasiswa, dan masyarakat sipil. Legitimasi SBY terus terancam akibat kasus Bank Century yang diduga melibatkan Boediono dan Sri Mulyani.

SBY diharapkan mau belajar dari kasus kejatuhan mantan Perdana Menteri Thailand Thaksin Sinawatra. Thaksin awalnya sangat populer, lalu jatuh beberapa bulan kemudian. Mengapa?

SBY bukanlah Thaksin. Namun Indonesia dan Thailand memiliki potensi yang sama dalam berdemokrasi: pernah dirundung kejatuhan para politisi. Di Indonesia, misalnya, Gus Dur telah dijatuhkan oleh pemakzulan, sedangkan di Thailand Thaksin digulingkan.

Karena itu, pantas dicermati pandangan politisi Golkar Jeffrie Geovanie yang mengingatkan SBY tentang kejatuhan PM Thailand Thaksin Sinawatra. Lima bulan sebelum jatuh, popularitas Thaksin menjulang tinggi di mata masyarakat Thailand. "Masyarakat Thailand punya kepercayaan tinggi pada Thaksin, sama seperti rakyat Indonesia yang percaya SBY," ujar Jeffrie dalam diskusi mengomentari hasil survei Lembaga Survei Indonesia, di Jakarta, Rabu (27/1).

Namun kepercayaan rakyat itu bisa berubah ketika kelas menengah gagal dirangkul. "Kelas menengah tidak puas, dan mereka bergerak dengan kekuataannya. Akhirnya Thaksin jatuh," ujar Jeffrie.
Karena itu, ia meminta Presiden SBY dan lingkarannya memperhatikan hasil survei LSI yang menemukan fakta bahwa kepuasan publik menurun dari 75% menjadi 70% dalam 100 hari pemerintahan.
LSI menyimpulkan kinerja pemerintahan SBY-Boediono tidak memuaskan masyarakat. Sedangkan Jeffrie menilai bahwa pasangan SBY-Boediono gagal melakukan komunikasi di tingkat elit dan menengah.
Pernyataan Jefrrie ini diiyakan politisi Partai Demokrat, Hayono Isman. "Penurunan jadi 70% itu signifikan. Perlu dicermati mungkin ada sinyal negatif dari publik. Harus dicari tahu mengapa bisa turun," katanya.
Partai Demokrat, kata Hayono, tak ingin kejadian seperti di Thailand terjadi pula di Indonesia. Jangan sampai krisis politik berlarut-larut seperti halnya di Thailand.
Hayono Isman mengaku heran dengan rendahnya tingkat kepuasan masyarakat atas Wakil Presiden Boediono. Hayono berkaca pada survei terbaru Lembaga Survei Indonesia yang menemukan fakta hanya 51% dari 2.900 respondennya menilai kinerja Boediono memuaskan.
"Padahal dulu, pemilihan Boediono sudah melewati penelitian mendalam," kata Hayono dalam diskusi mengomentari hasil survei di kantor LSI, Jakarta, Rabu (27/1). "Menurut kami saat itu, Pak Boediono yang paling ideal mendampingi SBY, tapi sekarang ini justru dukungan menurun."

Padahal Boediono, kata Hayono, memang baik. Boediono yang awalnya berprofesi dosen di Universitas Gadjah Mada itu diyakini jauh dari korupsi. "Kami sudah punya penilaian dulu bagaimana ambisi dia. Dan dia tidak punya ambisi politik. Beliau kan diminta, bukan mengajukan diri. Kalau yang lain justru mengajukan diri," ujar Hayono.
Dari sudut kepentingan bisnis, Boediono juga tidak punya kepentingan bisnis. "Dari keluarga beliau, juga tidak ada yang memanfaatkan posisi beliau. Tapi ternyata dalam politik, orang baik saja tak cukup. Kasihan Pak Boediono, beliau orang baik tapi terpeleset," tutur Hayono. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.