INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), pada Kamis (28/1) diprediksikan melanjutkan pelemahan seiring negatifnya sentimen market dan soal reklamasi lahan bekas tambang. Parto Kawito, Kepala Riset Infovesta Utama mengatakan potensi pelemahan
BUMI hari ini salah satunya karena faktor negatifnya sentimen market akibat pengetatan likuiditas di China. Selain itu, saham sejuta umat ini tersandung soal reklamasi lahan bekas tambang PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang
notabene anak usaha BUMI.
Menurutnya, seperti halnya PT Adaro Energy (
ADRO), bekas penggalian tambang KPC di Kalimantan Timur tidak ditutup kembali. Karena itu,
BUMI akan mengarah ke level
support Rp2.400-2.300 dan Rp2.525 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (27/1) malam.
Pada perdagangan kemarin saham BUMI melemah Rp100 (3,88%) menjadi Rp2.475 dibadingkan sebelumnya di level Rp2.575. Harga tertingginya mencapai Rp2.600 dan terendahnya Rp2.450. Sedangkan volume transaksi mencapai 352,1 juta unit saham senilai Rp885,04 miliar dan frekuensi 8.340 kali.
Lebih jauh Parto mengatakan secara tren saham batubara
thermal menujukkan pelemahan. Jika level
support 2.400 bisa ditembus, hari ini, level
support berikutnya berada di level Rp2.300.
Sebab, BUMI juga mendapat sentimen negatif dari BUMI yang masih bermasalah dengan soal tunggakan pajak senilai Rp2,1 triliun. Perseroan juga malah justru melakukan semacam protes ke Dirjen Pajak. Kalau sebuah perusahaan bermasalah dari sisi pajak
kan repot juga itu, tukasnya.
Di sisi lain, pelaku pasar juga saat ini masih menunggu kepastian
rights issue. Jika rencana tersebut tidak jadi dilaksanakan, justru akan menjadi sentimen positif. Sebab,
rights issue akan memaksa pemegang saham publik untuk menambah dana agar persentase kepemilikan sahamnya tidak berkurang, ujarnya.
Tapi,
rights issue juga sebenarnya bisa berpengaruh positif dan juga bisa berpengaruh negatif tergantung di level harga berapa. Jika harga
rights issue tidak terlalu murah, atau bahkan jauh di atas harga saat ini, bisa memicu spekulasi sehingga harga sahamnya bisa dikerek naik ke atas terlebih dahulu sebelum
rights issue dilaksanakan.
Parto mencontohkan, harga BUMI saat ini di level Rp2.475. Sedangkan harga
rights issue di level Rp2.600. Orang tidak akan bisa beli kecuali jika dinaikkan harganya ke level Rp2.800. Sebaliknya, jika ternyata harga
rights issue di level Rp2.000 akan sangat negatif pengaruhnya. Harga saham yang dimiliki bisa turun, timpalnya.
Namun demikian, jika dilihat lebih jauh kalaupun BUMI tidak melakukan
rights issue sebenarnya bermasalah bagi perseroan. BUMI akan kesulitan mendapatkan. Akan mendapatkan dari mana untuk
capital expenditure-nya, imbuhnya.
Apalagi, berita regional saat ini kurang positif seiring pengetatan likuditas di China dan pembatasan gerak perbankan oleh pemerintahan Obama. Bursa regional turun tajam dan hanya IHSG

yang mendingan.
Akibatnya, pelemahan saham bukan hanya terjadi pada BUMI melainkan juga terjadi pada Grup Bakrie secara keseluruhan. Namun, pelemahan BUMI merupakan yang terdalam di grupnya, paparnya.
Di sisi lain tren harga minyak juga melemah yang saat ini masih di level US$74 per barel

. Harga minyak sendiri trennya diperkirakan masih akan melanjutkan pelemahan. Apalagi, cadangan minyak di AS diperkirakan masih akan naik. Padahal sebelumnya
inventory-nya sudah naik 1,3 juta barel

, tuturnya.
Hal diperparah dengan data pertumbuhan di Korea lebih rendah dari prediksi semua analis. Padahal konsumsi Korea merupakan rangking keempat terbesar di Asia. Ternyata pertumbuhannya di bawah ekspektasi sehingga menjadi sentimen negatif bagi harga minyak, ucapnya.
Dipastikan akan menjadi sentimen negatif juga bagi BUMI. Level
support harga minyak sendiri berada di angka US$69 untuk kembali mengarah ke penguatan. Itulah sentimen-sentimen negatif di pasar selain faktor pengetetan likuiditas di China, ungkapnya.
Untuk saat ini, Parto menyarankan agar pasar lebih baik
wait and see terlebih dahulu atas BUMI. Investor disarankan masuk kembali ke saham anak usaha Grup Bakrie ini di level
support Rp2.100-2.150. Sebab, tren saat ini masih turun, urainya.
Menurut Parto, level
support 2.100, merupakan level murah untuk BUMI sehingga investor bisa membelinya. Jika ternyata level ini berhasil ditembus ke bawah, BUMI bisa melemah ke level Rp1.700. Tapi saya rasa tidak separah itu, pungkasnya. [mdr]