INILAH.COM, Jakarta - Hari ini, Kamis (28/1), akan ada aksi massa. Tema besarnya adalah evaluasi 100 hari program kerja pasangan SBY-Boediono. Targetnya: belum jelas. Ada yang mengarah ke SBY, ada yang cuma Boediono, ada yang neolib.
Sampai malam menjelang pergantian hari Rabu (27/1) ke Kamis (28/1), beberapa kelompok aksi yang menyatakan siap turun ke jalan, belum secara tegas menyampaikan target aksi mereka.
Dari penelusuran INILAH.COM, di lapangan, paling tidak ada tiga isu besar yang akan diangkat. Pertama, krisis kepercayaan rakyat pada pasangan SBY-Boediono. Kedua, segera bebas-tugaskan Boediono dari jabatannya karena Pansus Hak Angket terus mengarah pada peran Boediono dan Sri Mulyani, dan ketiga, potong kelompok neolib dari lingkaran kekuasaan.
''Nggak jelas kasirnya siapa?'' kata seorang aktivis demonstran, setengah bergurau.
Ya. Dari penelusuran ke beberapa elemen aksi, agenda yang akan diusung dalam aksi 28 Januari 2010, tepat saat 100 hari pemerintahan, masih belum satu agenda besar.
Sebagian ada yang langsung mengarah pada penjatuhan pemerintahan. Sebagian, ada yang hanya ingin pergantian beberapa orang. Sebagian lagi, ada yang mengarah pada tekanan agar pemerintah segera melakukan aksi nyata untuk merealisasikan janji politiknya.
''Saya dengar memang di gerakan muncul agenda yang belum menyatu. Sebagian dari orang-orang gerakan ada yang meyakini, terlalu berisiko kalau harus menjatuhkan SBY. Pertanyaan sederhananya, yang ganti siapa?'' kata Syahganda Nainggolan, seorang tokoh gerakan, dalam obrolan dengan INILAH.COM, Rabu (27/1).
Kalaupun muncul beberapa nama, dalam pandangan politik Syahganda, itu akan menimbulkan masalah baru: yaitu konflik kekuasaan. ''Kan harus dibedakan antara konflik kekuasaan dan kepentingan rakyat. Yang pertama, itu urusannya proses demokrasi. Yang kedua, itu kewajiban, siapapun yang memenangi proses demokrasi,'' tegasnya.
Nah, kata Syahganda, beberapa kelompok gerakan lebih mengarah pada upaya pergantian kepemimpinan atau sebagian dari kepemimpinan. ''Saya kira, itu yang memungkinkan. Mengganti formasi kepemimpinan dan kekuasaan. Terutama di lini yang vital,'' katanya.
Syahganda sendiri mengingatkan, saat ini ada agenda mendesak yang harus mendapat tekanan dari publik. ''Yaitu, gerakan yang mengancam kehidupan rakyat bawah. Terutama, kaum buruh. Namanya, neo-liberalisme!'' tegas Syahganda.
''Soal CAFTA, Presiden sudah tegas menyatakan akan meninjau ulang perjanjian CAFTA. Itu yang harus kita tekan dalam aksi rakyat. Kita desak supaya pemerintah melakukan pembicaraan ulang. Nah, itu akan berhasil kalau anasir-anasir neolib kita bersihkan. Kita tidak akan bisa melakukan re-negosiasi, kalau neolibnya masih bercokol,'' tegas Syahganda.
Siapa sih neolib itu?
Tanpa menyebut orang, Syahganda menyatakan bahwa siapa saja yang mendorong masuknya kapitalisasi dan berpihak pada kepentingan asing daripada kepentingan-kepentingan bangsa sendiri.
''Negara harus berorientasi pada kepentingan rakyat. Bukan pada kepentingan kekuasaan apalagi untuk kekayaan kelompok-kelompok tertentu,'' tegasnya.
Jadi, siapa yang melakukan aksi 28 Januari? ''Beberapa elemen, dengan beberapa agenda. Saya kira, yang akan menguat adalah gerakan melawan neolib. Tapi, tetap amankan SBY,'' tegas Syahganda.[ims]