Berdasarkan sebuah riset baru yang dilakukan di AS, masalah pendengaran kini tak lagi menjadi momok bagi usia pertengahan. Tingkat pendengaran generasi baru lebih baik ketimbang orangtua mereka. Riset itu membuktikan, gangguan pendengaran pada penderita usia 45-75 terus turun.
Kemungkinan ketika berusia 70 tahun, potensi gangguan pendengaran saya lebih kecil ketimbang nenek saya ketika ia menginjak usia itu, ujar sang peneliti, Karen Cruickshanks dari University of Wisconsin-Madison. Hasil risetnya yang dibantu sejumlah kolega itu dimuat dalam , Rabu (27/1).
Selain memberikan kabar baik bagi generasinya, Cruickshanks juga menyatakan dalam risetnya bahwa apa yang dilakukan masyarakat dan pengalaman mereka membantu menunda masalah pendengaran ketika usia mereka bertambah. Para ahli menyimpulkan ada beberapa alasan yang mendukung temuan itu, seperti melakukan pekerjaan yang berisik dan perlindungan telinga yang baik di tempat kerja. Imunisasi dan antibiotik untuk mencegah sejumlah penyakit. Bahkan, turunnya jumlah perokok.
Temuan Cruickshanks juga mendapat banyak pujian dari ahli kesehatan. Namun mereka masih harus meneliti apakah pola itu berlaku untuk seluruh masyarakat. Pasalnya, relawan riset yang mencapai 5.300 orang itu kebanyakan berkulit putih. Hasil ini juga berarti aman-aman saja mendengarkan musik keras-keras lewat pada iPod Anda, demikian komentar para ahli.
Relawan riset ini berusia setidaknya 45 tahun dan dilahirkan antara 1902-1962. Tes dilakukan antara 1993 dan 2008. Sejumlah peserta dites dengan interval setiap lima tahun sekali. Mereka merupakan penghuni Kota Beaver Dam, di negara bagian Wisconsin, AS, beserta anak cucu dan keturunan mereka yang tinggal di sejumlah tempat lainnya di AS.
Dalam beberapa tes, periset mencatat adanya kehilangan pendengaran kategori ringan. Mereka kemudian membandingkan, apakah rating melemahnya pendengaran pada usia tertentu dipengaruhi sejak partisipan dilahirkan. Misalnya untuk pria yang berusia awal 60-an. Tingkat pelemahan pendengaran untuk mereka yang dilahirkan antara 1930-1934 adalah 58%. Untuk mereka yang dilahirkan lima tahun kemudian, tingkatnya turun menjadi 50%. Bagi mereka yang dilahirkan pada 1945-1949, rating itu turun menjadi 36%.
Secara keseluruhan pada usia tertentu, ada pengurangan 13% untuk risiko menurunnya pendengaran pria untuk setiap kelahiran yang berjarak lima tahun. Sedangkan untuk perempuan, pengurangan risiko itu hanya 6%, lanjut Cruickshanks.
Timnya kini berusaha mencari tahu alasan menurunnya risiko penurunan pendengaran. Menurut Cruickshanks, penjelasannya mungkin kompleks dan sulit untuk dijabarkan. Sebab polanya telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun. Namun ada sejumlah faktor yang bisa diperhitungkan sebagai penyebabnya.
Seperti eksposur jangka panjang untuk kebisingan tingkat tinggi di tempat kerja. Juga penurunan tingkat perokok dan kebiasaan lain yang merusak pendengaran. Lalu perubahan perawatan kesehatan, termasuk imunisasi dan pengunaan antiobiotik, ini juga berpengaruh, katanya.
Epidemiologis yang mempelajari tingkat kehilangan pendengaran di State University of New York Downstate Medical Center in Brooklyn di New York, Elizabeth Helzner, memuji riset yang dilakukan Cruickshanks dan timnya ini. Masuk akal, terutama di bagian eksposur terhadap bising tanpa pelindung telinga di tempat kerja, ujarnya.
Helzner menambahkan, kemungkinan itu juga terjadi dalam aktivitas berburu dan peperangan. Tentunya kemungkinan itu lebih tinggi pada pria ketimbang perempuan. Sebab itulah potensi penurunan pendengaran kaum Adam lebih dramatis. Adapun kemungkinan lain adalah pengendalian penyakit diabetes dan jantung yang berhubungan dengan berkurangnya pendengaran.
Kini pertanyaannya, apakah penurunan ini akan terus berlangsung di generasi muda saat ini? ungkap Helzner.
Ia memperhatikan kebiasaan mereka mendengarkan musik dengan keras melalui yang berlangsung selama berjam-jam setiap harinya. Eksposur kronis itu lebih membahayakan. Jadi, tak ada salahnya mengurangi kebiasaan buruk itu. [mor]