Minggu, 27 Mei 2012 | 13:29 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Pasar Modal Ramai Transaksi Sekunder Bukan IPO
Headline
Inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Susan Silaban
web - Kamis, 28 Januari 2010 | 13:30 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Peran pasar modal dinilai masih rendah sebagai sumber pembiayaan. Pangsanya hanya sekitar 24 persen meliputi emisi saham dan obligasi korporasi. Padahal kapitalisasi saham di BEI pada akhir 2009 menembus Rp2.007 triliun.

Demikian data laporan Bank Indonesia mencatat pada akhir 2009 seperti ditulis INDEF. Nilai emisi yang benar-benar masuk ke dalam sistem pembiayaan korporasi hanya sebesar Rp417 triliun per November 2009. Artinya, pasar saham masih lebih diramaikan oleh kegiatan transaksi sekunder ketimbang transaksi IPO dan rights issue.

Histeris pasar sekunder dan peningkatan IHSG sebetulnya indikator perekonomian domestik, yang saat ini membawa risiko tekanan terhadap
neraca keuangan dan volatilitas nilai tukar ketika terjadi pelepasan saham oleh investor asing. Pertumbuhan nilai emisi saham hanya sebesar 2,5 persen YoY, jauh dibanding pertumbuhan perbankan. Bahkan, pembiayaan dari perusahaan pembiayaan hanya mencatat pertumbuhan sebesar 0,8 persen YoY.

Sementara pertumbuhan emisi obligasi korporasi mencapai 7,0 persen setelah tahun berikutnya mengalami penurunan cukup tajam sebesar minus 12 persen. "Tampak kelesuan sektor pembiayaan tidak saja bersumber dari
seretnya kredit perbankan, melainkan juga sulitnya melakukan emisi di pasar modal. Alih-alih menuntun penurunan suku bunga kredit yang rendah, sektor korporasi boleh jadi dihadapkan pada kesulitan memperoleh dana di pasar modal," tegas Ikhsan Modjo, Kamis (28/1).

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kelesuan di pasar obligasi. Salah satunya karena pasar banyak dijejali obligasi pemerintah atau SUN, sehingga dikhawatirkan emisi tiudak semuanya dapat terserap. Kemungkinan ini juga berkait dengan preferensi investor yang sudah tentu akan memilih SUN ketimbang obligasi korporasi karena SUN lebih aman.

"Peringkat kredit dari obligasi korporasi juga belum tentu membrikan intensif yang menarik mengingat peringkat SUN saja tergolong di bawah rendah. Imbal hasil SUN pun masih tinggi pada kisaran 10-11 persen,"
ujarnya menjelaskan.

Ini timbul, lanjutnya, karena pengenaan spread suku bunga yang bisa mencapai kurang lebih 2 persen dari suku bunga SUN, biaya emisi seperti underwriting, selling fee, dan jasa penunjang seperti notaris dan penilai serta biaya pendaftaran di bursa. Bila dikalkulasikan, biaya emisi obligasi dapat menyentuh kisaran 15 persen. [cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.