Minggu, 27 Mei 2012 | 13:30 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sentimen Pasar Siap Dorong BUMI
Target BUMI Februari Rp3.250
Headline
istimewa
Oleh: Ahmad Munjin
web - Jumat, 29 Januari 2010 | 09:04 WIB
INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (29/1) diprediksi melanjutkan penguatan seiring positifnya sentimen market. Selain itu, semua rumor negatif sudah dibantah perseroan.
Pengamat pasar modal, Willy Sanjaya mengatakan potensi penguatan saham BUMI hari ini karena peluang positifnya sentimen pasar. Menurutnya, BUMI sebelumnya mengalami koreksi setelah rontoknya bursa regional yang cukup dalam.
Sementara Bursa AS saat ini masih belum stabil namun bisa positif menyusul keputusan The Fed. Bank Sentral AS itu menahan tingkat suku bunga acuan di level rendah 0-0,25%.
Hal ini menjadi kabar gembira bagi pasar dan akan direspon dengan penguatan lebih lanjut. The Fed, lanjut Willy, berusaha meyakinkan pasar bahwa pemulihan ekonomi AS sudah stabil sejak Desember lalu.
Karena itu, BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.675 dan Rp2.475 sebagai level support-nya, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (28/1).
Pada perdagangan kemarin, saham BUMI ditutup menguat Rp75 (3,03%) menjadi Rp2.550 dibanding sebelumnya di level Rp2.475. Harga tertingginya mencapai Rp2.550 dan terendah Rp2.450. Volume transaksi mencapai 334,2 juta unit saham senilai Rp838,5 miliar dan frekuensi 6.527 kali.
IHSG ^JKSE merupakan market kuat dengan kenaikan di atas 50 poin kemarin. Dibandingkan Singapura, Indeks Indonesia hanya selisih 140 poin. Padahal selisih dengan Singapura beberapa tahun lalu masih 400-500 poin. Saat ini bursa Singapura di level 2.757 dan Indonesia berada di 2.619. Indeks Indonesia pun akan bertenger di level 2.655-2.675 khusus untuk Januari ini.
Karena itu, BUMI masih sangat potensial menuju level upside-nya. Apalagi, semua rumor negatif tentang BUMI setelah dikofirmasi kepada Senior Vice President Investor Relations, BUMI Dileep Srivastava, sudah terbantahkan. Dileep membantah bahwa China Invesment Corporation (CIC) bertemu dengan BUMI di Bali. Itu sama sekali tidak benar, tukasnya.
CIC menjadi mitra strategis BUMI setelah mengucurkan pinjaman senilai US$1,9 miliar beberapa waktu lalu. CIC memang berinvestasi di banyak negara terutama di sektor pertambangan salah satunya di BUMI. BUMI menjadi satu perusahaan nasional yang patut dibanggakan, timpalnya.
BUMI juga membantah tekait tuduhan tunggakan pajak senilai Rp2,1 triliun. Menurut Willy, isu pajak merupakan ulah orang yang tidak menyukai kenaikan saham sejuta umat. BUMI merupakan market leader di Indonesia. Tanpa BUMI dan Grup Bakrie berapa sih perputaran kapitalisasi market, imbuhnya.
Willy menandaskan, BUMI merupakan salah satu aset nasional yang sangat berharga. Pendapatan perseroan sangat berkontribusi signifikan terhadap penerimaan pajak negara. BUMI merupakan pembayar pajak terbesar.
BUMI, imbuhnya, dengan jumlah karyawan yang sangat besar merupakan satu perusahaan nasional yang memiliki usaha tambang di luar negeri. Selain di dalam negeri sendiri sudah jadi raja, ucapnya.
BUMI juga sudah membantah terkait rumor rencana perseroan yang akan melakukan rights issue. Begitu juga rights issue PT Bakrie and Brothers (BNBR) di level Rp65 per lembar saham. Semua sama sekali tidak masuk akal. Sebab, anak usaha BNBR yaitu ENRG (PT Energi Mega Persada) baru melakukan rights issue, ungkapnya.
Dana tersebut sebenarnya masih sangat kuat. Semua anak usaha Bakrie Group termasuk BUMI bisa menggunakan dana hasil rights issue ENRG. Jadi, dana IPO dari BNBR sendiri masih sangat solid, ungkapnya.
Karena itu, BUMI pun dalam waktu dekat ini tidak akan melakukan rights issue. Tekait berita BUMI akan mengatakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Januari ini pun tidak benar. RUPS tetap dilaksanakan dalam satu tahun ke depan, urainya.
BUMI sangat baik secara fundamental. Sebab sudah memiliki hampir 100% saham Herald dan telah mengakuisisi PT Newmont Nusa Tenggara (NTT). BUMI juga memiliki Arutmin dan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
BUMI setiap tahun akan mengeluarkan satu strategi korporasi yang brilian, paparnya. BUMI juga akan ekspansi perusahaaan hingga mencapai Gorontalo yang memiliki kandungan emas dan batubara.
Di sisi lain penurunan harga minyak ke level US$73 per barel menurutnya tidak berpengaruh negatif bagi BUMI. Sebab, kontrak-kontrak BUMI merupakan kontrak jangka panjang. Tidak berdasarkan harga minyak hari ini, terangnya.
Secara fundamental, saham BUMI saat ini masih murah dibandingkan perusahaan batu bara lainnya. Bahkan, dengan price earning (PE) 10 kali pun BUMI masih sangat murah. Penguatan BUMI berikutnya akan terjadi luar biasa di semester I 2010 ini, tuturnya.
Untuk itu, Willy merekomendasikan strong buy BUMI. Ia menargetkan BUMI di level Rp3.250 untuk jangka pendek sebelum akhir Februari. Target Rp3.800 jangka menengah, di akhir Maret setelah penutupan tahun pajak. Sedangkan target akhir tahun saya di level Rp4.500, pungkasnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.