Minggu, 27 Mei 2012 | 13:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
INCO Masih ada Potensi Upside
Headline
Oleh: Asteria
web - Jumat, 29 Januari 2010 | 11:36 WIB
INILAH.COM, Jakarta Keterbatasan kapasitas terpasang, menghambat produksi perseroan. INCO pun mendapat peringkat Netral. Namun, masih ada potensi penguatan pada emiten ini.
Asia securities memberi rating netral pada PT International Nickel Indonesia (INCO). Mengingat kenaikan produksi yang terbatas, karena produksi sudah melebihi kapasitas terpasang.
Dengan metode Discounted Cash Flow, serta asumsi WACC 16,8%, LTG 2%, premium risk 5%, serta beta 1,43, target harga per lembar saham INCO mencapai Rp3.728, Ini berarti masih terdapat potential upside sebesar 5,5%, katanya, Jumat (29/1).
Asia securities memperkirakan volume penjualan INCO pada 2009 turun 7,5% menjadi 69,18 ribu MT nikel dalam matte, ketimbang 2008 sebesar 73,05 ribu MT. Hingga kuartal 3 2009, INCO telah mencapai volume penjualan 50,68 ribu MT, sedangkan volume produksi 50,3 ribu MT.
Sedangkan Average Selling Price (ASP) 2009 diprediksikan sebesar US$10,959/MT, turun dibandingkan ASP 2008 sebesar US$17,724/MT. Penurunan tersebut disebabkan oleh penurunan produksi nikel karena sampai dengan Agustus 2009, produksi hanya mengandalkan energi dari PLTA. Tidak digunakannya lagi batubara thermal sebagai sumber energi menjadi faktor utama penurunan produksi 2009,ujarnya.
Namun, tahun ini, penjualan INCO akan naik 5% menjadi 72,64 ribu MT seiring peningkatan produksi stainless steel dunia, yang merupakan konsumen utama nikel, Sedangkan ASP kami estimasikan sebesar US$15,600/MT, katanya.
Terbatasnya penguatan emiten ini juga disebabkan terbatasnya produksi perseroan. Hal ini mengingat bahwa INCO saat ini memiliki kapasitas terpasang sebesar 63 ribu MT. Sementara itu, produksi nikel dalam matte selama 2004-2008, bervariasi antara 71,62 ribu MT hingga 76,75 ribu MT.
Melalui program optimisasi, INCO mempunyai target meningkatkan kapasitas produksi nikel dalam matte menjadi 200 juta pon (90.718 MT), dengan proyek Karebbe sebagai pondasinya. Kapasitas produksi dinaikkan melalui upaya debottlenecking, paparnya.
INCO telah mendapatkan fasilitas pinjaman sebesar US$300 juta melalui Senior Export Facility Agreement yang ditandatangani pada 30 November 2009 dengan Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd., Mizuho Corporate Bank, Ltd., Vale S.A, dan Union Bank, N.A. Fasilitas ini digunakan untuk membiayai pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di sungai Larona di wilayah Karebbe, Sulawesi Selatan dan ditargetkan selesai pada 2011.
Saat ini INCO memiliki cadangan bijih nikel terbukti sebesar 89 juta MT dan cadangan terkira sebesar 64 juta MT. INCO memiliki 3 hydropower yang dibangun pada satu sungai, yaitu sungai Larona. Hydropower Larona memiliki kapasitas 165 MW, sedangkan hydropower Balambano memiliki kapasitas 110 MW.
Adapun Hydropower Karebbe masih dalam tahap pembangunan dan telah selesai sekitar 35%. Hydropower Karebbe akan menambah kapasitas sebesar 90 MW dari kapasitas hydropower yang dimiliki INCO saat ini. Proyek ini juga akan mengurangi biaya tunai tahunan sebesar US$220 hingga US$331 per MT, serta menurunakan risiko pasokan energi ketika curah hujan berada di bawah rata-rata.
Penggunaan hydropower sebagai pembangkit energi, memang akan menambah efisiensi bagi INCO. Sebagai perbandingan, untuk memproduksi 1 pon nikel dalam matte jika menggunakan
batubara thermal membutuhkan biaya US$1, sedangkan jika menggunakan energi hydropower
hanya membutuhkan biaya 1 sen.
Namun, lanjutnya, penggunaan hydropower juga memiliki risiko jika ketinggian air tidak mencukupi. Jika hanya mengandalkan energi hydropower yang dimiliki, produksi nikel akan lebih rendah 20% dibandingkan jika menggunakan hydropower dan batubara thermal. Kini INCO sepenuhnya menggunakan hydropower sebagai sumber energi, dengan kekuatan diesel dan turbin yang hanya berfungsi sebagai pelengkap (auxiliaries backup).
Sedangkan Trimegah securities mengatakan, nikel dari bulan Oktober cenderung berkonsolidasi di kisaran 16.266-19.466. Support Nikel berada di level 17.475-17.500 dengan resisten di kisaran 19.370-19.500. Stochastic yang mulai keluar dari wilayah jenuh beli, membuka peluang INCO untuk menguji resisten. Sementara penembusan atas support 17.475 akan membawa membawa Nikel kembali support Agustus 2009 di kisaran 16.000-16.266,katanya dalam riset Jumat (29/1).
Sebelumnya Mega Capital Indonesia mengatakan, target price untuk INCO 12 bulan ke depan dengan metode DCF adalah Rp4.600, dimana harga ini mengindikasikan PE 2010/2011 sebesar 17.96 kali dan 20.58 kali serta PBV 2010/2011 2.99 kali dan 2.80 kali.
Selain itu, jika dibandingkan saham sejenis, harga INCO juga masih menarik meski sudah premium. Rata rata PE 2010/2011 industri sebesar 15.27 kali dan 15.48 kali. Sementara itu PBV 2010/2011 sebesar 2.65 kali dan 2.42 kali.
Perbaikan kinerja didukung harga nikel di pasar international yang mulai pulih memasuki kuartal II 2009 (2Q09). Triland Metals memproyeksikan harga nikel pada 2014 naik mencapai USD 22,000/ton.[mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.