Minggu, 27 Mei 2012 | 13:34 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham Bakrie Tidak Rekomendatif
Headline
Oleh: Ahmad Munjin & Asteria
web - Jumat, 29 Januari 2010 | 14:32 WIB
INILAH.COM, Jakarta Saham Grup Bakrie belum mendapatkan rekomendasi positif di akhir pekan ini. Namun, masih ada peluang penguatan jangka menengah panjang, didukung aksi korporasinya.
Hal ini diungkapkan Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Asset Management. Menurutnya, saham kelompok Bakrie masih akan melemah, seiring koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Aksi profit taking investor akan berimbas pada saham-saham Bakrie, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (29/1).
Menurutnya, pergerakan saham Grup Bakrie sangat tergantung pada aksi korporasinya, terutama cara mendapatkan dana. Masalah terbesar di kelompok ini adalah mengenai permodalan, mengingat banyaknya rencana akuisisi dan proyek yang yang akan dilakukan.
Ini berarti, saham-saham Bakrie akan diburu bila bisa mendapatkan investor, atau rights issue yang dilakukannya sukses. Sebab, semua itu menunjukkan kepercayaan pasar, ujarnya.
Secara umum, imbuhnya, saham grup Bakrie bergerak dengan kompak. Penguatan di salah satu emiten, akan mengangkat saham di grupnya. Begitu juga sebaliknya.
Namun, untuk jangka menengah, Nico hanya melihat tiga saham yang berpotensi memberi gain, yaitu PT Bumi Resources (BUMI), PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP), dan PT Barieland Development (ELTY). Jadi, BUMI, UNSP, dan ELTY yang memberikan peluang lebih besar dari saham grup Bakrie lainnya, ungkapnya.
Nico menilai, UNSP akan diuntungkan rencana rights issue perseroan dan peluang kenaikan harga komoditas. Begitu pula dengan saham BUMI yang masih prospektif didukung peningkatan produksi dan kenaikan harga batubara. Sedangkan ELTY menarik, seiring penguatan saham sektor properti, menyusul maraknya proyek-proyek pembangunan, timpalnya.
Terkait proyek-proyek di Grup Bakrie, ia menyarankan investor masuk untuk jangka menengah panjang, hingga 3-4 tahun ke depan. Pasalnya, dalam pelaksanaannya, suatu proyek memiliki probabilitas untuk gagal.
Nico mencontohkan saham PT Energi Mega Persada (ENRG) yang memiliki banyak proyek. Tapi, untuk jangka yang sangat panjang baru menghasilkan. Itupun kalau semuanya lancar, tukasnya.
Begitu juga PT Bakrie & Brothers (BNBR) sebagai holding. Induk usaha Grup Bakrie ini berencana melaksanakan proyek pemasangan pipa Kalimatan-Jawa. Proyek itu kan tidak jalan-jalan. Ada baiknya pelaku pasar melihat grup ini lebih realistis, tukasnya.
Untuk jangka menengah, Nico menargetkan BUMI di level Rp3.300, UNSP ditargetkan di level Rp800, dan ELTY ditargetkan di level Rp320. Semuanya untuk 6 bulan ke atas, itu pun kalau lancar. Sedangkan untuk harian lebih cocok untuk trading, pungkasnya.
Sementara Samuel Sekuritas memberi rekomendasi beli dengan risiko tinggi untuk BNBR, menyusul rencana perseroan menggadaikan saham anak usaha, terkait rencana penerbitan exchangeable bonds senilai US$200 juta pada kuartal pertama 2010.
Exchange bond adalah obligasi yang dapat ditukar dengan portofolio saham yang dimiliki oleh perusahaan penerbit obligasi. Speculative buy untuk BNBR, kata Samuel sekuritas.
Kabar yang beredar menyebutkan, saham yang akan dijual BNBR adalah Bakrie Pipe Industrie (BPI) dan South East Asia Pipe Industries (SEAPI). Calon pembeli diperkirakan Tenaris SA, perusahaan pipa baja, yang belum lama ini mengakuisisi 77,45% saham Seamless Pipe Indonesia Jaya dari BNBR, Green Pipe International Ltd, dan Cakrawala Biru.
Dana hasil exchangeable bond itu akan digunakan untuk melunasi utang jangka pendek Rp1,5 triliun, pelaksanaan rights issue anak usaha UNSP dan ENRG sebesar Rp2,1 triliun dan investasi lainnya. BNBR juga berencana mencari pendanaan jangka panjang dari pinjaman bank dengan jangka lebih dari 1 tahun.
Samuel Sekuritas juga menyarankan investor yang masih memiliki saham BTEL dan UNSP untuk menyimpannya hingga target harga tercapai. Kami rekomendasikan hold untuk BTEL dan UNSP, ujarnya.
BTEL saat ini sedang menjajaki obligasi global US$200 juta untuk memenuhi kebutuhan capex tahun ini yang direncanakan US$200 juta. BTEL menargetkan jumlah pelanggan tahun ini naik menjadi 14 juta, dari posisi akhir 2009 sebesar 10 juta.
Sedangkan UNSP berencana melakukan penawaran umum terbatas 9,45 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp525 per unit dan rasio 2:5. Total dana yang diperoleh bisa mencapai Rp4,96 triliun.
Dana hasil rights issue akan digunakan untuk peningkatan modal anak usaha Rp3,1 triliun, yang selanjutnya akan digunakan untuk akuisisi (64,9%), pengembangan usaha Rp1,2 triliun (25,7%), dan modal kerja Rp460 miliar (9,5%).
Panin Sekuritas melihat, rasio right issue UNSP tidak menarik, pasalnya 1 saham lama harus membeli 2,5 saham baru. Rasio yang lebih besar dari 1 :1 cenderung menyebabkan aksi buang barang dari pemodal besar guna menjaga rasio/sebesar portofolionya, katanya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.