INILAH.COM, Jakarta - Ibu Negara Ani Bambang Yudhoyono mengingatkan generasi muda Indonesia akan ancaman bahaya narkoba dalam kehidupan sehari-hari. Ibu Ani pun senang mendengar pemuda Indonesia mulai jauhi narkoba.
"Indonesia menghadapi ancaman narkoba yang cukup serius dewasa ini karena Indonesia bukan lagi sebagai konsumen narkoba, melainkan juga sebagai produsen," kata Ibu Ani dalam peluncuran Program Aksi Peduli Anak Bangsa Bebas Narkoba di sebuah mal di Jakarta, Sabtu.
"Ini dibuktikan dengan ditemukannya 'home industry' ekstasi dan sabu-sabu di beberapa tempat di Indonesia," katanya.
Menurut Ibu Ani, maraknya penggunaan narkotika oleh remaja merupakan pertanda buruk bagi eksistensi bangsa di kemudian hari.
Data dari Mabes Polri, kata Ibu Ani, menunjukkan jika jumlah kasus narkoba yang ditangani cenderung naik setiap tahun.
Namun, sekalipun hampir tidak ada kelompok masyarakat yang terbebas dari narkoba tetapi menurut BNN kelompok remaja adalah kelompok yang paling banyak menyalahgunakan narkoba.
"Jumlahnya lebih dari 14 ribu orang atau 19 persen dari keseluruhan pengguna," ujarnya.
Padahal, lanjut Ibu Ani, narkoba memberikan dampak negatif terhadap produktifitas remaja.
"Anak-anak menjadi pemalas, tidak peduli dengan sesuatu yang terjadi di sekitarnya, mudah berbohong, mudah melakukan kejahatan atau tindak kriminalitas. Yang paling membahayakan adalah kualitas kesehatan menjadi turun, mudah terserang penyakit seperti hepatitis dan HIV/AIDS," jelasnya.
Oleh karena itu, Ibu Negara mengajak agar generasi muda Indonesia dapat mengatakan tidak untuk narkoba.
"Hari ini saya sangat gembira mendengar langsung pelajar, mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya yang menyatakan akan menjauhkan diri dan membebaskan dirinya dari bahaya narkoba. Ini berarti tidak ada tempat untuk narkoba," kata Ibu Ani saat menyaksikan komitmen perwakilan generasi muda untuk menghindari narkoba.
Ia juga mengimbau agar generasi muda mengenali narkoba bukan untuk dicoba namun untuk menghindari.
"Banyak hal sebenarnya yang dapat kita lakukan untuk menanggulangi penyalahgunaan narkoba diantaranya adalah dengan memasukkan pengetahuan tentang narkoba dalam kurikulum SD. Kita berharap siswa dapat mengenali dan memahami apa itu narkoba sejak dini," katanya.
Pada kesempatan itu Ibu Negara juga menyerahkan secara simbolis 15 kios kepada mantan pengguna dan pengedar narkoba.
Kios sembako berwarna kuning dengan tulisan "Tiada Tempat untuk Narkoba" dan "Aksi Peduli Anak Bangsa Bebas Narkoba" itu difasilitasi oleh Alfamart.
Para penerima mendapat hak menempati sewa selama dua tahun dan hibah modal awal Rp1 juta.
Salah seorang penerima adalah Sujatmiko, kakek tiga cucu yang dulu berjualan narkoba di Kampung Boncos, Jakarta Barat, yang mengaku tidak ingin lagi berjualan narkoba.
Turut hadir dalam acara tersebut antara lain, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng serta Kapolri Jenderal Pol.Bambang Hendarso Danuri. [*/mut]