INILAH.COM, Makassar - Bentrokan terjadi di kampus Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Jl Urip Sumoharjo, Makassar. Ini karena pihak rektorat sudah tidak simpatik dengan aksi mahasiswa.
Pihak rektorat mencoba menghalang-halangi dengan merampas ban bekas yang hendak dibakar.
Pihak rektorat yang semula mendukung aksi mahasiswa, belakangan sudah tidak respek karena dinilai aksi mahasiswa telah berimbas terhadap masayarakat, mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Kericuhan diawali saat aksi mahasiswa di jalan depan pintu gerbang kampus sekitar pukul 13.30 wita. Aksi mahasiswa yang mengatasnamakan dirinya perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-UMI ini berjalan
lancar, sempat membakar ban bekas di badan jalan seperti hari-hari sebelumnya.
20 menit aksi berlangsung, pihak rektorat termasuk diantaranya Pembantu Rektor III, Mas'ud Sar langsung turun membubarkan paksa aksi mahasiswa ini dengan merampas sisa ban bekas yang akan dibakar.
Terjadi aksi saling tarik ban bekas antar mahasiswa dan Mas'ud Sar, pembantu rektor III.
Ketegangan mulai mereda setelah ban berhasi dirampas jajaran rektorat dibantu Satpam. Namun pukul 14.21 wita, antara mahasiswa dan jajaran rektorat kembali tegang karena mahasiswa kembali memulai aksinya.
Jajaran rektorat mencoba merampas megaphone yang digunakan mahasiswa demikian juga dengan ban bekas.
Hingga akhirnya mahasiswa mundur dan menggelar aksinya di luar pintu gerbang.
Satpam akhirnya menutup pintu gerbang dan tidak membiarkan mahasiswa aksi di sekitar pintu gerbang kampus.
Mas'ud Sar, Pembantu Rektor III menjelaskan, sebelumnya pihak rektorat mendukung aksi mahasiswa sehingga bersama rektor UMI, Prof Natsir Hamzah mengawal aksi mahasiswa di gedung DPRD Sulsel pada momen 100 hari pemerintahan SBY.
"Namun beberapa hari ini aksi mahasiswa mulai tidak simpatik. Sangat mengganggu kenyamanan pengguna jalan. Aksi bakar ban bekas membuat jalan macet," ujar Mas'ud Sar.
Dijelaskan, tidak ada lagi toleransi terhadap aksi mahasiswa ini. Sebelumnya telah berkali-kali diperingati namun aksi yang mengganggu pengguna jalan termasuk nama baik Perguruan Tinggi ini tetap berlangsung,
aksi mahasiswa terpaksa dibubarkan.
"Kita ini berpendidikan, beretika tapi jangan sampai aksi sekelompok kecil mahasiswa merusak citra kampus, namanya berdampak sistemik," tandas Mas'ud Sar.[ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !