Minggu, 27 Mei 2012 | 13:45 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Manufaktur China, Pacu Koreksi MSCI
Headline
istimewa
Oleh: Vina Ramitha & Asteria
web - Senin, 1 Februari 2010 | 20:46 WIB
INILAH.COM, Tokyo - Bursa saham Asia kembali berguguran. Positifnya data manufaktur China, dikhawatirkan akan memperlambat pertumbuhan kredit.

Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,3% ke 116,44 pada perdagangan Senin (1/2) di Tokyo. Penurunan ini terjadi setelah dua survei manajer purchasing menaikkan permintaan ekspor dan tekanan inflasi di China. Indeks komposit Shanghai turun 1,7% dan indeks S&P futures naik 0,2%.

Indeks MSCI Emerging Market juga jatuh lebih dari 10% sejak 11 Januari. Hal ini akibat aksi China dan India yang memperketat peraturan kredit perbankan demi mengurangi tekanan inflasi. Dolar AS diperdagangkan tertinggi selama tujuh bulan terakhir atas euro. Pasar menarik dana dari Eropa secepatnya dan beberapa bank sentral membeli mata uang Eropa dengan lambat.

Ahli strategi di Barclays Wealth Asia, Menpreet Gill menuturkan, pasar akan terus bergerak lambat karena kekhawatiran pengetatan dana. Sentimen ini ditambah sejumlah penurunan yang tengah terjadi. "Di saat yang bersamaan, bank sentral memang mengetat, karena perbaikan fundamental," paparnya kepada Bloomberg, Senin (1/2).

Indeks manajer purchasing yang dirilis HSBC Holdings Plc dan Markit Economics Januari naik ke angka rekor 57,4. Ini angka terbesar sejak Juli 2008. Indeks serupa dari Federation of Logistics and Purchasing diubah ke 55,8, tercepat sejak 2008.

Bursa saham China ditutup turun, dimana indeks Shanghai turun 47,93 poin (1,6%) ke 2.941,36. Tekanan berasal dari IPO di China yang telah mengalihkan likuiditas dari saham. Sedangkan saham perbankan memimpin penurunan, seiring kekhawatiran meningkatnya pembatasan pinjaman di akhir tahun. Shanghai Pudong Development Bank turun 2,0% dan Bank of Communications turun 1,4%.

Kekhawatiran pasar terhadap outlook pertumbuhan ekonomi, diakui Fund Manager Dazhong Insurance Co., Wu Kan. Akibatnya, pabrikan baja terbesar kedua di China, Hebei Iron & Steel Co., turun 4%. Terutama setelah Deputi Gubernur bank sentral Negeri Tirai Bambu, Zhu Min, berencana menghentikan kelebihan kapasitas industri.

Jiangxi Copper Co. dan Aluminium Corp. turun 3,2%, memimpin penurunan saham batubara setelah harga spot bahan bakar di pelabuhan Qinhuangdao dan pendapatannya turun. "Pasar masih menantikan kebijakan pengetatan selanjutnya," katanya.

Koreksi terjadi di tengah positifnya data PMI (Purchasing Manager Index) HSBC Januari yang naik ke rekor tinggi 57,4. Sedangkan indeks terpisah dari Federasi Logistik dan Pembelian China dan Biro Statistik Nasional bulan ini jatuh ke 55,8. Ini adalah angka tertinggi sejak Mei 2008.

"Investor telah mengabaikan semua data ekonomi baik yang ditawarkan China, dan saya berharap pasar akan mampu keluar dari ini, karena pasar sudah oversold," kata Simon Wang, seorang ahli strategi dari Guoyuan Securities.

Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 121,76 poin (0.61%) ke level 20.243,75. Hal ini dipicu bargain hunting di bank-bank China dan keuntungan di perusahaan properti lokal, menyusul kinerja yang positif selama akhir pekan.

Beberapa bargain-hunting terjadi di saham perbankan China, setelah anjlok tajam. Industrial & Commercial Bank of China naik 1,2% dan China Construction Bank naik 1,8%. Penguatan juga dialami saham properti, seperti New World Development naik 3,9%, Cheung Kong naik 1,8% dan Sino Land naik 0,5%.

Sedangkan di bursa Tokyo, indeks Nikkei 225 Stock Average naik 6,98 poin (0,1%) ke 10.205,02. Penguatan dipicu short-covering saham-saham kelas berat seperti Sony yang naik 1,7%. Demikian juga Softbank yang naik 2,3% dan KDDI yang naik 2,3%. Namun, penguatan Nikkei terbebani saham sektor otomotif turun setelah Honda dan Toyota mengumumkan masalah recall (penarikan kembali produk bermasalah).
Pembuat chip memori terbesar Jepang, Toshiba Corp., anjlok 6% setelah memangkas prediksi penjualan tahunan mereka pada 29 Januari lalu hingga 5,9% karena resesi global.

Pengetatan kredit bank oleh China, serta penguatan dolar AS membuat harga tembaga di London turun 0,8% ke US$6.690 per metrik ton. Nikel turun 0,5% ke 18.400 per ton.

Di Eropa, kata ekonom Bank of New Zealand Ltd., Mike Jones, muncul kekhawatiran masalah kredit di Yunani, Portugal, Spanyol yang mempertaruhkan nasib euro. "Selama kekhawatiran berlangsung, kita akan terus melihat support safe haven untuk dolar dan yen," katanya. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.