INILAH.COM, Beijing - Sekian lama bersitegang dan berunding masalah status HImalaya, China dan Tibet masih belum menemukan jalan keluar yang memuaskan kedua belah pihak.
"Seperti dalam perundingan sebelumnya, posisi kedua pihak masih berbeda tajam," kata Zhu Weiqun, Wakil Eksekutif/Menteri Badan Partai Komunis yang menangani kontak dengan Dalai Lama, dalam sebuah konferensi pers yang dikutip AFP, Selasa (2/2).
Komentar itu muncul setelah perundingan pertama antara kedua pihak lebih kurang setahun terakhir, diakhiri akhir pekan lalu. Utusan Dalai Lama kembali ke markas pengasingan mereka di India, Dharamshala, Senin (1/2).
Kedua utusan itu tiba di New Delhi setelah mengadakan serangkaian pertemuan dengan wakil pemerintah China, yang dimulai di negara bagian tengah Hunan, sebelum berpindah ke Beijing pada akhir pekan.
Pemerintah China dijadwalkan akan melakukan penjelasan pers mengenai perundingan itu, hari ini. Pada putaran terakhir perundingan, rakyat Tibet menyampaikan memorandum yang menegaskan permintaan otonomi mereka, di wilayah pemukiman pegunungan kaum Budhis sesuai dengan konstitusi China.
Beijing mengatakan, tidak akan berkompromi mengenai sikapnya, bahwa Tibet adalah bagian integral dari China. Namun mengatakan, pihaknya tetap akan membuka pintu bagi perundingan-perundingan mendatang, meskipun terdapat perbedaan tajam antara kedua pihak.
Dalai Lama telah meminta otonomi sepenuhnya untuk Tibet sejak dia meninggalkan tanah airnya, menyusul pemberontakan yang gagal pada 1959 terhadap pemerintahan China, sembilan tahun setelah pasukan China menyerang wilayah itu.
China mengatakan, Dalai Lama sebenarnya ingin merdeka penuh dan menegaskan bahwa dia harus meninggalkan kegiatan separatisnya. Namun, Dalai Lama membantah tuduhan tersebut. [*/vin]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !