INILAH.COM, Jakarta - Kendati pencapaian ekspor 2009 masih di bawah tahun sebelumnya, namun tidak seburuk prediksi pemerintah sebelumnya. Ini sebagai tanda pemulihan ekonomi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, pencapaian ekspor di 2009 merupakan indikasi dari pemulihan ekonomi. "Dan sebetulnya apa yang disampaikan BPS (Badan Pusat Statistik) menggambarkan situasi
yang tidak seburuk saat kita bayangkan 2009. Dulu pun diprediksi sedalam 25 persen," ujarnya usai Rapat Paripurna DPR RI, Selasa (2/2).
Secara akumulatif ekspor Januari-Desember 2009 tercatat sebesar US$116,49 miliar atau turun 14,98%. Dan ekspor non migas secara akumulatif, tercatat turun 9,66% ke US$97,47 miliar. Sementara untuk nilai ekspor Indonesia pada Desember 2009 mencapai US$13,33 miliar atau peningkatan sebesar 23,69% dibanding ekspor November 2009. Dan bila dibanding Desember 2008 mengalami peningkatan sebesar 49,82%. Sedangkan, nilai impor Indonesia Desember 2009 mencapai US$ 10,33 miliar atau meningkat 17,15% dibanding November 2009 yang besarnya US$ 8,81 miliar.
Menkeu menjelaskan, ekspor yang diperkuat dengan bahan baku (raw material) seperti CPO dan batu bara, mampu memberikan kontribusi positif ke perekonomian Indonesia. Hal ini tidak memiliki korelasi dengan impor yang tinggi terutama dari sektor manufaktur. "Ini memberikan surplus ke neraca perdagangan 2009 Desember itu sangat tinggi. Ini akan memperkuat neraca pembayaran," ujarnya.
Walau diakui memperkuat neraca pembayaran, ke depannya ekspor diharapkan lebih bervariasi. "Karena tergantung dengan raw material kita juga tergantung harganya. Oleh karena itu kita perlu memperkuat ekonomi dengan diversifikasi," ujar Menkeu. [mre/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !