INILAH.COM, Pandai Sikek Nagari itu terletak di kaki bukit. Gunung Singgalang dan Marapi menjaganya. Di sanalah, di negeri yang dingin itu, sebuah warisan budaya dipertaruhkan. Songket namanya.
Songket adalah warisan budaya tenun dari masyarakat Minangkabau. Dalam beberapa hal, dia mirip batik di tanah Jawa. Bukan soal corak, bukan bahannya. Kemiripannya ada pada nasib. Songket, laksana batik, kini terancam terenggut dari tangan anak bangsa.
Di Sumatra Barat, salah satu daerah yang paling terkenal dengan kain (tenun) songket adalah Nagari Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Dasar. Tenun songket Pandai Sikek dibuat secara tradisional masyarakat nagari tersebut sejak dulu.
Diperkirakan, kegiatan tenun-menenun ini telah ada sejak abad ke-15, seiring dengan pengembangan wilayah Kerajaan Minangkabau ke arah kaki gunung Singgalang.
Keterampilan tenun ini dibawa oleh pedagang-pedagang dari Indocina dan India. Bahan baku membuat kain tenun diperoleh dari negara tersebut. Hingga kini, benang emas India masih digunakan.
Pedagang-pedagang ini melakukan perdagangan melintasi daerah pesisir menuju pusat Kerajaan Minagkabau, Pagaruyung. Nagari Pandai Sikek sendiri merupakan daerah perlintasan perdagangan tersebut, yang terletak di kaki Gunung Singgalang dan di hadapan Gunung Merapi.
Kain tenun ini merupakan pakaian kebesaran bagi keluarga bangsawan dan saudagar kaya di masa Kerajaan Minangkabau. Keberadaan keterampilan membuat kain tenun juga diiringi kemampuan membuat ukiran. Menenun adalah pekerjaan wanita, sementara laki-lakinya mengukir. Ukiran ini juga sebagai bahan pelengkap untuk membangun Istana Kerajaan dan Rumah Gadang di Minangkabau.
Pada periode 1800-1900-an, tenun antik Pandai Sikek mulai dikembangkan pada setiap masyarakat. Hal ini dpat dilihat dari bukti-bukti keberadaan hasil tenun yang terus meluas di wilayah Minangkabau. Sehingga, corak kain tenun yang dibuat
anak Nagari Pandai Sikek menjadi begitu banyak ragamnya.
Pada awal 1900-an, kain tenun Pandai Sikek mulai banyak diminati oleh masyarakat. Pada masa perjuangan kemerdekaan, Nagari Pandai Sikek juga ikut berperan penting dalam mempertahankan kemerdekaan RI. Hal ini terjadi setelah peristiwa pembakaran rumah penduduk Nagari Pandai Sikek oleh penjajah Belanda. Banyak peralatan tenun dan hasil tenun yang telah menjadi pusaka bagi suatu suku habis terbakar.
Menjelang 1950-an, kerajinan tenun kembali berkembang di hati setiap masyarakat Pandai Sikek. Adalah Hajjah Jalisah yang berjasa membangkitkan semangat generasi muda dengan menggiatkan kegiatan pertenunan. Bahan baku yang digunakan adalah benang dari daerah Silungkang. Sedangkan benang emasnya didatangkan dari Selat Panjang, wilayah di Propinsi Riau.
Kegiatan ini menyebabkan tenun berkembang pesat di tengah masyarakat, baik dari segi motif maupun pewarnaan benang. Pemasarannya juga telah mencapai mancanegara. Hal ini terbukti sekitar tahun 1960-an, seseorang bernama Dr Switt
yang berkebangsaan Jerman pernah memesan gorden pintu yang dibuat dari kain tenun daerah ini.
Motif songket Minagkabau ditampilkan dalam wujud simbol-simbol alam, terutama yang mengambil bentuk dasar hewan dan tumbuhan. Jika diperhatikan dengan seksama, bentuk floral dalam motif songket Minangkabau tidaklah digambarkan secara realis meskipun unsur alaminya seperti bunga atau daun tetap terlihat.
Penggambarannya hanya berupa stilisasi yang dikembangkan dengan berbagai macam
variasi. Setiap motif memiliki nama khusus dan biasanya mengandung makna tertentu. Ada lebih dari 350 motif yang asli ciptaan anak Minang.
Sebutlah umpamanya motif Itik Pulang Petang yang menggambarkan serombongan itik yang pulang ke kandang pada sore hari. Motif ini berupa garis-garis lurus berbaris seperti itik dan melambangkan kedisiplinan serta aturan yang ada dalam komunitas pengikut aturan adat.
Selain kerumitan motif, kualitas kain songket diukur dari banyaknya benang yang digunakan. Uniknya, makin banyak benang, malah makin murah harganya.
Untuk melestarikan motif-motif tersebut, penenun biasanya menggabungkan berbagai
motif dalam satu helai kain. Sebanyak 30 hingga 50 motif sekaligus bisa dimuat.
Kain tenun yang memiliki banyak motif ini disebut dengan kain kapalo duo atau mempunyai dua buah pucuk yang biasanya digunakan untuk acara adat bagi kaum
perempuan. Dalam khasanah Minang, hal itu dikenal pula dengan sebutan tikuluak tanduak.
Hasil tenunan Pandai Sikek biasanya dipakai untuk acara adat maupun kegiatan lainnya seperti selendang untuk kaum wanita menuju rumah tempat pernikahan berlangsung. Songket juga dipakai oleh pria yang baru menikah dalam acara adat perhelatannya, hiasan dinding, hingga alas meja untuk bantal kursi, dan lain sebagainya. [Bersambung/I4]