Minggu, 27 Mei 2012 | 13:51 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Penutupan Bursa Regional
Bursa Asia Mulai Bangkit
Headline
istimewa
Oleh: Vina Ramitha
web - Selasa, 2 Februari 2010 | 20:41 WIB
Berita Terkait
INILAH.COM, Tokyo Bursa Asia mulai menguat, setelah terpuruk ke level terendah dua bulan terakhir. Data manufaktur AS dan naiknya harga komoditas menjadi katalisnya. Hal ini didukung melesatnya dolar AS atas euro.

Indeks MSCI Asia Pasifik naik 1% ke 117,41 pada Selasa (2/2) di Tokyo, mengikuti penguatan indeks Standard & Poor 500 sebesar 1,4% kemarin di New York. Pasar secara keseluruhan sudah mencapai tingkat oversold dan berharap adanya pantulan. Demikian pula kondisi secara ekonomi yang sudah lebih baik.

Ketimbang setahun lalu, kini ada alasan mengapa pasar masih terus menawar, kata Prasad Patkar dari Platypus Asset Management di Sydney kepada Bloomberg, Selasa (2/2).

Sentimen positif berasal dari data manufaktur AS Januari yang mengalami peningkatan terpesat sejak Agustus 2004. Hal ini menambah keyakinan bahwa ekonomi mulai pulih dari resesi. Sementara Bank sentral Australia, Reserve Bank of Australia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%, setelah tahun lalu menaikkan suku bunga hingga tiga kali.

Indeks Hang Seng di Hong Kong naik 28,43 (0,14%) ke level 20.272,18. Penguatan dipimpin saham game Makau, menyusul laporan kinerja Januari yang naik 65% dari tahun sebelumnya. Saham SJM naik 5% menjadi HK$4,02, Sands China melompat 2,7% menjadi HK$11,36, dan Wynn Macau naik 2,2% ke HK$9,62.

Investor tetap mencermati langkah-langkah pengetatan lebih lanjut dari China. Mereka pun membatasi kenaikan harga aset selama libur panjang sejak 13 Februari. Hal ini akan mendorong profit taking di sebagian besar perbankan pemerintah.

"Investor enggan mengambil posisi besar sebelum Tahun Baru China," kata Jackson Wong, manajer investasi di Tanrich Securities. Investor berspekulasi mengenai langkah-langkah pengetatan potensial, maka sektor perbankanlah yang mendrive pasar.

Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 1.8%. Saham penambang terbesar dunia, BHP Billiton Ltd., juga naik 3,2%. Sedangkan indeks Nikkei 225 Stock Average di bursa Tokyo naik 1.6% ke 10.371,09. Penguatan dipicu kinerja saham-saham AS yang solid dan pelemahan yen atas dolar AS. Selain didukung short-covering produsen mobil seperti Toyota Motor dan Honda Motor.

Toyota akan merilis laporan keuangan kuartal ketiga pada pekan ini, di tengah spekulasi trend penurunan dampak dari proses recall. Saham Toyota bisa rebound sekitar Y4,000 seiring keprihatinan atas kebijakan peringanan, ujar Mamoru Kato, analis dari Tokai Tokyo Research Center.

Saham Honda Motor naik 2,4% ke Y3,070, Toyota Motor Corp. naik 4,5% dan saham Nissan Motor, yang naik 3,5% ke Y746. Demikian pula saham Canon Inc. dimana 28% pemasukan diperoleh dari Amerika, naik 2,7%.

Sementara mata uang dolar AS diperdagangkan di 1,3933 per euro, hampir mencapai level tertinggi mereka selama tujuh bulan terakhir. Hal ini akibat kekhawatiran Eropa terhadap masalah anggaran Yunani. "Para pembuat kebijakan Eropa tampaknya khawatir bahwa masalah-masalah Yunani dapat menyebar," kata Yuji Saito, direktur forex di Bank Calyon di Tokyo. Segala peningkatan yang dicapai euro, otomatis terhenti.

Uni Eropa (UE) akan mengeluarkan review mengenai anggaran Yunani dan sejumlah rencana pemangkasan, Rabu (3/2) waktu setempat. Menurut Komisaris Ekonomi dan Moneter UE Joaquin Almunia mengatakan, program defisit Yunani akan sangat ambisius. Ini memang perlu dilakukan, terutama ketika situasi sulit seperti saat ini, paparnya.

Sementara penguatan dolar AS juga berasal dari kejatuhan dolar Australia sebanyak 1,5% ke 87,85 US sen dari 89,14 sen di New York. Hal ini menyusul pernyataan Gubernur bank sentral Australia Glenn Stevens dan dewan gubernurnya yang tidak mengubah biaya pinjaman beberapa bulan ke depan.

Hal tersebut demi menekan dampak akibat kenaikan-kenaikan sebelumnya. Kepercayaan bisnis, terutama di kalangan perusahaan ritel, turun ke level terendahnya selama enam bulan pada Desember lalu.

Bertahannya suku bunga Australia, juga mengejutkan banyak kalangan. Termasuk 20 ekonom top yang disurvei Bloomberg, yang memprediksikan kenaikan setidaknya 25 basis poin. Para traders futures itu memperkirakan 74% suku bunga akan dinaikkan.

Menurut ekonom senior di Nomura Australia Ltd., Stephen Roberts, keputusan ini akan membawa mata uang mereka kembali ke leveltertentu. Namun begitu, bank sentral tidak tinggal diam begitu saja. Ini hanya pause. Bukan berarti mereka bubar, katanya. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.