INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Rabu (3/2) diprediksikan melanjutkan koreksi setelah gagal menembus level resistance-nya kemarin. Buy on weakness BUMI! Riset analis Reliance Securities Gina Novrina Nasution mengatakan, potensi pelemahan saham
BUMI hari ini karena kegagalan emiten ini menembus level
resistance-nya pada perdagangan kemarin. Saham sejuta umat ini juga masih kekurang oksigen akibat minimnya sentimen.
Karena itu,
BUMI akan mengarah ke level
support Rp2.425 dan Rp2.625 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (2/2) malam.
Pada pada perdagangan kemarin saham BUMI ditutup melemah Rp50 (1,96%) menjadi Rp2.500 dibandingkan sebelumnya di level Rp2.550. Harga tertingginya di level Rp2.600 dan terendah Rp2.475. Volume transaksi mencapai 166,7 juta unit saham senilai Rp425,8 miliar dan frekuensi 5.615 kali.
Menurutnya, level
support Rp2.425 cukup kuat sehingga susah untuk ditembus ke bawah. Pada saat mengarah ke level
support-nya saham ini berpeluang kembali balik arah menguat.
Untuk saat ini BUMI menguji level
resistance di level Rp2.625 untuk penguatan lebih jauh ke level Rp2.750, ujarnya. Karena itu, dalam jangka pendek, saham ini berpotensi terjadi pembalikan arah ke level
resistance-nya.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak dunia ke level US$75 per barel

diyakini Gina tidak akan mendongkrak saham BUMI. Sebab, pada perdagangan kemarin pun, harga minyak sudah menguat ke level US$74 dari sebelumnya US$72 per barel. Buktinya, tidak bisa mengangkat saham ini, tukasnya.
Koreksi BUMI kemarin juga dipicu penurunan harga batubara di level US$98 dari sebelumnya US$99 per metrik ton. Bahkan sebelumnya sempat menyentuh US$102 per mertik ton. Sentimen positifnya masih minim bagi BUMI, timpalnya.
Lebih jauh Gina mengatakan, meski diberitakan persoalan pajak perseroan sudah selesai, hal itu sudah terfaktorkan di pasar pada saat BUMI mencapai level Rp3.000. Karena itu, penguatan BUMI lebih jauh masih membutuhkan sentimen positif yang lain.
Sementara itu, sentimen market pun belum mendukung penguatan BUMI mengingat belum ada katalis penguatan. Kemarin pun indeks gagal menembus titik
resistance-nya.
Indeks hari ini pun masih berpotensi melemah, imbuhnya. Laporan
existing home sales di AS yang sudah diekspektasikan positif untuk
month to month-nya, dari minus menjadi plus, masih belum cukup kuat untuk mendongkrak indeks.
Begitu juga jika melihat indikator lain seperi valuasi saham sudah berada di level bawah yang seharusnya membuat indeks naik. Saat ini indeks harus menemukan momentum penguatan yang merupakan sentimen positif.
Gina mencontohkan saham PT Perusahaan Gas Negara (
PGAS) yang saat ini belum tembus di level
resistance Rp3.800. Begitu juga dengan saham PT Adaro Energy (
ADRO) yang belum tembus Rp1.900. Semuanya saat ini masih sideways, tuturnya.
Laporan BI rate pada Kamis (4/1) besok yang diperkirakan masih tetap di level 6,5% hingga akhir kuartal pertama, diharapkan bisa memicu kenaikan indeks. Sebab, BI rate di level itu akan sangat positif bagi sektor
banking dan properti sehingga masih layak dikoleksi, urainya.
Laporan keuangan BUMI sendiri di kuartal keempat 2009 sudah
price in (terfaktorkan) di pasar. Karena itu, saham ini membutuhkan sentimen positif yang lain seperti aksi korporasi yang baru. Saya rekomendasikan
buy on weakness di posisi
support untuk BUMI, pungkasnya. [mdr]