INILAH.COM, Jakarta Penguatan indeks saham diikuti penguatan rupiah di pasar uang. Tumbuhnya risk appetite menjadi pemicu menyusul positifnya indeks penjualan rumah di AS.Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (3/2) ditutup menguat 55 poin (0,588%) terhadap dolar AS menjadi 9.295/9.300, ketimbang posisi kemarin di level 9.350/9.355. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.00 WIB rupiah ditransaksikan menguat 62,5 poin (0,66%) menjadi 9.300 per dolar AS.
Albertus Christian K, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures mengatakan, penguatan rupiah hari ini dipicu kekhawatiran pasar atas intervensi BI. Hal ini terlihat dari aksi ambil untung investor saat rupiah mengarah ke level 9.400 per dolar AS. Alhasil, mata uang AS kembali tertekan dan secara otomatis rupiah terangkat, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Rabu (3/2).
Kecemasan ini pun sempat membawa rupiah menguat ke level 9.295, bahkan menyentuh angka 9.285. Level terlemah rupiah hari ini di level 9.355, beda tipis ketimbang penutupan kemarin, ujarnya.
Menurut Albertus,
profit taking atas dolar AS juga dipicu tumbuhnya
risk appetite di pasar. Artinya, selera risiko investor atas aset-aset ber-
yield tinggi, seperti obligasi, semakin kuat. Hal ini dipicu rilisnya data penjualan rumah AS yang cukup menggembirakan, ujarnya.
Seperti diketahui,
National Association of Realtors AS melaporkan indeks penjualan rumah naik 1% menjadi 96,6 selama Desember atau naik dari bulan November sebesar 95,5. Ia menilai, data-data sektor perumahan menunjukkan angka stabil sehingga memicu keyakinan pasar atas pemulihan ekonomi. Itulah yang memicu minat investor atas aset-aset berisiko kembali bergairah lagi, paparnya.
Investor pun memburu
yield yang lebih tinggi, terutama terhadap negara berkembang seperti Indonesia. Ekonomi RI dinilai lebih kebal terhadap resesi.
Yield obligasi Indonesia sangat tinggi di kisaran 6,5-7,5%. Hal ini memicu arus
capital inflow, ungkapnya.
Di saat yang sama, terjadi
profit taking dolar di pasar global, mengingat mata uang AS itu sudah memasuki area
overbought. Dolar AS melemah terhadap sebagian besar mata uang utama, hingga menembus level psikologisnya terhadap mata uang utama. Hal ini memicu penguatan lebih lanjut untuk mata uang regional termasuk rupiah, pungkasnya.
Salah satunya terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro), dimana dolar AS kembali lesu ke level 1,4014 per euro. Begitu juga nilai tukar dolar AS terhadap poundsterling berada di atas level 1,6040.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau ditransaksikan pada level 8.257 terhadap dolar Australia, di angka 13.036 terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro), dan di posisi 6.622 terhadap dolar Singapura. Sementara itu, mata uang kawasang mendominasi penguatan terhadap dolar AS. Hanya dua mata uang yang melemah.
Dolar Australia turun 0,35% menjadi 0.889, dan dolar New Zealand terdepresiasi 0,05% terhadap dolar AS ke level 0.712. Selebihnya, mata uang kawasan menguat. Yen Jepang naik 0,31% ke angka 90.094, dolar Hong Kong terangkat 0,01% ke posisi 7.765, dolar Singapura menanjak 0,08% menjadi 1.407, dolar Taiwan menggeliat 0,26% ke level 31.963, dan Won Korsel melonjak 0,91% ke angka 1.149.
Demikian juga peso Filipina merangkak naik 0,71% ke posisi 46.055, rupee India terdongkrak 0,48% menjadi 46.012, yuan China siuman 0,0004% ke level 6.826, ringgit Malaysia terkerek naik 0,33% ke angka 3.407, dan baht Thailand tarpresiasi 0,30% ke posisi 33.035 per dolar AS. [ast/mdr]