INILAH.COM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menilai, mempertahankan target inflasi 2010 sebesar 5% adalah hal berat.
Kepala BPS Rusman Heriawan menjelaskan, dengan adanya pemulihan ekonomi maka akan memberi tekanan pada laju inflasi 2010. "Kalau dia ada recovery terus jadi naik, barangkali mempertahankan inflasi lima persen ini sangat berat ya, baik bagi pemerintah maupun semua stake holder," ujarnya ketika ditemui usai Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XI DPR RI dengan BPS, Rabu (3/2).
Rusman menjelaskan, pernyataan pemerintah yang tidak akan menaikkan tarif dasar listrik (TDL) hanyalah suatu sikap untuk menenangkan masyarakat. Sementara keadaan ekonomi dunia mulai bergerak ke arah positif dan ini akan menjadi pemicu alasan pemerintah untuk mengubahnya. "Sebab sedikit saja ada statement yang keliru disitu, misalnya TDL akan ditinjau lagi, itu pengaruh pada konsumsi tinggi gitu, dia akan merespon misalnya beli sekarang, akhirnya rush segala macam nanti dampaknya kemana-mana," ujarnya.
Selain itu, perbaikan ekonomi dunia akan berpengaruh pada harga-harga barang di dunia, karena meningkatnya permintaan dari konsumen. "Kalau harga dunia naik, dan kebetulan barang-barang dunia itu adalah yang kita butuhkan di dalam negeri, bahan baku atau apa, yang kita kawatirkan terjadi imported inflation, oleh sebab itulah ke depan ini harus ada satu toleransi juga yang respon terhadap kenaikan harga-harga dunia," ujarnya.
Ia menegaskan, asumsi inflasi 5% daalam APBN 2010 didasari tidak adanya kenaikan TDL dan BBM serta pergerakan harga-harga dunia dalam kisaran normal. "Sebenarnya BPS dari minggu pertama sudah memberi sinyal, tapi begitulah, kadang-kadang birokrasi itu menyebabkan operasi pasar terlambat," ujarnya. [mre/cms]