INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (4/2) diperkirakan akan melanjutkan penguatan. Rupiah akan diperdagangkan pada kisaran 9.260 hingga 9.340 per dolar AS. Analis valas Monex Investindo Rizal Kawengian mengatakan, rupiah pada perdagangan hari ini ada kecenderungan menguat karena keputusan Australia untuk mempertahankan tingkat suku bunga. Hal ini juga didukung oleh rally euro yang masih berlangsung.
Sementara dari dalam negeri, tak ada sentimen yang mendukung penguatan rupiah. Rupiah akan diperdagangkan pada kisaran 9.260 hingga 9.340 per dolar AS, katanya kepada
INILAH.COM, Rabu (3/2).
Pada perdagangan kemarin, pasar khawatir Australia akan menaikkan tingkat suku bunga. Jika demikian yang terjadi, maka mereka akan mulai melepas dolar AS dan beralih ke Australia. Namun ternyata, Reserve Bank of Australia tak jadi melakukannya. Keputusan ini berpengaruh ke mata uang
emerging market lainnya, papar Rizal.
Dari dalam negeri, tak ada sentimen yang mendukung kenaikan rupiah. Malah sebalikanya, jika Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga, maka akan memberikan sentimen negatif ke pasar. Investor berharap BI akan tetap mempertahankannya pada 6,5%. Hal ini berkaca dari suku bunga Australia yang masih berada di 3,75%.
Lagi pula, Australia serta China dan India menaikkan suku bunga ketika kondisi dalam negeri mereka mendukung. Dalam artian, sejalan dengan pertumbuhan perekonomian masing-masing. Pertumbuhan kita kan belum
overheating seperti China. Percuma mengubah suku bunga karena gak berdampak ke rupiah, ujarnya.
Kenaikan harga minyak akan menekan dolar AS. Apalagi kenaikan ini diperediksikan akan berlangsung cukup banyak, bukan sementara. Sebab ada dukungan dari permintaan, bukan spekulasi yang sudah dibatasi oleh proposal Presiden AS Barack Obama. Hedge fund sudah tidak bisa berspekulasi harga komoditas minyak. Dukungan permintaan pada minyak ini diharapkan bisa menekan dolar AS, pungkasnya.
Albertus Christian K, periset dan analis senior PT Monex Investindo Futures peluang penguatan rupiah hari ini masih terbuka, seiring berlanjutnya aksi
risk appetite investor. Rupiah Kamis ini akan bergerak di kisaran 9.185-9.350 per dolar AS, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta.
Menurutnya, minat investor terhadap aset-aset berisiko dan berimbal hasil tinggi masih pesat. hal ini didukung rilis data manufaktur dan data
non-farm payroll AS yang diekspektasikan positif. Hal ini memicu pelemahan dolar AS dan penguatan rupiah, ucapnya.
Pasar saat ini mencermati kebijakan suku bunga bank sentral Inggris dan Eropa yang diprediksikan tidak berubah. Namun, imbuhnya, yang dinantikan pasar sebenarnya adalah perubahan
outlook ekonomi dari tiap petinggi bank sentral. Perubahan
outlook, misalkan penarikan stimulus, mengindikasikan potensi kenaikan suku bunga, ujarnya.
Karena itu, ada kecenderungan mata uang mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) menguat dan dolar AS tertekan. Kondisi ini juga membuat rupiah menguat lebih lanjut. Sebab, optimisme pasar memicu koreksi dolar AS, ungkapnya.
Di sisi lain
recovery ekonomi memicu arus
capital inflow ke pasar domestik. Mereka memburu
yield di Indonesia yang rata-rata 6,5-7,5%. Pada saat yang sama, indeks kepanikan pasar pun (VIX) kembali turun ke level 21 yang menjadi acuan bagi tumbuhnya
risk appetite, pungkasnya.
Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Rabu (3/2) ditutup menguat 55 poin (0,588%) terhadap dolar AS menjadi 9.295/9.300. [vin/ast/mdr]