INILAH.COM, Jakarta - Aksi Pengunjukrasa yang membawa kerbau ditanggapi Presiden SBY yang menyayangkan tak memiliki etika. Ditanggapinya soal sepele tersebut membuat SBY dinilai salah kaprah.
"Seharusnya kekesalan dia soal kerbau kan disampaikan saja di Cikeas, itu wajar. Tapi ini disampaikan di sidang kabinet, seolah-olah ada organisasi kerbau, kerbau sepertinya sekarang dianggap jadi opisisi pemerintah," tutur Direktur eksekutif LIMA Ray Rangkuti kepada INILAH.COM di Jakarta, Kamis (4/2).
Karena kerap menanggapi hal yang sepele, lanjut dia, tidak mengherankan jika SBY dicap presiden sebagai tercengeng sepanjang sejarah Indonesia. Cap itu, lanjut mantan Sekjen KIPP ini, pantas diberikan kepada SBY.
Karena, menurutnya, bukan sekali ini saja SBY sibuk meluangkan waktu dan tenaga untuk menyampaikan pidato yang kebanyakan menanggapi hal-hal yang sifatnya pribadi dan tidak perlu.
Ray mebeberkan pun beberapa contoh. Yakni, soal kegelisahan SBY yang mengaku menjadi sasaran tembak teroris, dan soal kekhawatiran adanya pihak tertentu yang ingin mengagalkan pelantikan dirinya sebagai Presiden 2009-2014.
Kemudian, soal isu pemecatan Menkeu Sri Mulyani, dan yang lainnya. Termasuk yang terakhir adalah soal kerbau yang dibawa pendemo pada 28 Januari yang diibaratkan sebagai dirinya.
"Tapi yang terjadi kan sebaliknya, sekarang ditanggapi malah masyarakat semakin berani mengungkapkan pendapatnya. Makanya tadi pagi (kemarin) kerbau itu dibawa lagi ke Bunderan HI," tandas Ray. [jib]