INILAH.COM, Jakarta - Demonstrasi yang menggunakan simbolisasi hewan kerbau sebagai penggambaran sosok Presiden SBY dianggap telah menyalahi etika dalam berdemokrasi.
"Saya kira kalau ada foto kepala negara yang dibakar dan diinjak-injak dan ada simbolisasi kerbau, saya kira itu sudah tidak tepat lagi, sudah melampui dari kesantunan etika berdemokrasi," ujar Menko Perekonomian, Hatta Rajasa kepada INILAH.COM di The Sultan Hotel, Jakarta, Kamis (4/2).
Menurutnya dalam berdemokrasi harus mengedepankan etika dan moralitas guna menjaga jati diri bangsa Indonesia. "Saya kira kita ingin mengedepankan demokrasi yang tumbuh di negara kita adalah demokrasi yang santun dan yang mengedepankan etika yang kita lakukan dengan cara-cara yang santun dan etika yang bermoral, yang sesuai dengan jatidiri indonesia." imbuhnya.
Hatta belum bisa menjawab perihal rencana tindakan tegas yang akan dilakukan Presiden SBY terkait dengan penggunaan simbolisasi kerbau terhadap dirinya. "Yang seperti itu kan ada perangkat hukumnya. Kita lihat saja nanti," tandasnya.
Sebelumnya, Presiden SBY sudah menyinggung soal demo kerbau pada 28 Januari lalu itu yang dinilai sudah melebihi batas etika dalam berdemokrasi. Ia menginginkan sebaiknya demo dilakukan dengan mengindahkan norma-norma kepantasan.
"Kita bahas juga misalkan, unjuk rasa yang terjadi di negeri Pancasila ini. Di sana ada yang teriak-teriak SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling. Ada juga demo yang bawa kerbau. Ada gambar SBY. Dibilang, SBY malas, badannya besar kayak kerbau. Apakah itu unjuk rasa? Itu nanti kita bahas," ujar Presiden SBY di Istana Cipanas. [jib]