Sabtu, 26 Mei 2012 | 10:06 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Berdemokrasi Bukan Berarti Melanggar Etika
Headline
Istimewa
Oleh:
web - Kamis, 4 Februari 2010 | 09:12 WIB
Banyak pihak yang menilai kehidupan berdemokrasi masyarakat Indonesia sudah maju dan berkembang lebih baik.

Sejak reformasi bergulir kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul sudah dibuka lebar-lebar. Bahkan kebebasan pers dan penghargaan terhadap nilai-nilai hak asasi manusia sudah lebih baik dibanding negara berkembang lainnya.

Indonesia sangat berpotensi menjadi kiblat demokrasi di kawasan Asia, berkat keberhasilan mengembangkan dan melaksanakan sistem demokrasi. Menurut Ketua Asosiasi
Konsultan Politik Asia Pasifik (APAPC), Pri Sulisto, keberhasilan Indonesia dalam bidang demokrasi bisa menjadi contoh bagi negara-negara di kawasan Asia yang hingga saat ini beberapa di antaranya masih diperintah dengan tangan besi.

Indonesia juga bisa menjadi contoh, bahwa pembangunan sistem demokrasi dapat berjalan seiring dengan upaya pembangunan ekonomi.

Mantan wakil perdana menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, pernah mengatakan bahwa demokrasi telah berjalan baik di Indonesia, dan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan populasi 4 besar dunia berhasil melaksanakan demokrasi.

Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia telah berhasil menerapkan demokrasi. Diharapkan agar perkembangan ekonomi juga makin meyakinkan, sehingga demokrasi bisa disandingkan dengan kesuksesan pembangunan.

Mencermati jalannya demokrasi di Indonesia akhir-akhir ini kita bisa merasakan bahwa banyak pihak dan kalangan yang belum memahami kehidupan demokrasi yang sesuai dengan kepribagian bangsa Indonesia. Sebagai contoh, pemerintah telah memberikan kebebasan berpendapat, berserikat dan berkumpul, sebagai wujud dari majunya demokrasi di Indonesia.

Namun, kenyataannya kebebasan itu disalahgunakan, terutama ditunjukkan saat pelbagai kalangan melakukan aksi unjuk rasa sebagai bagian dari alam demokrasi.

Aksi Unjuk rasa tidak dilakukan dengan kaidah-kaidah demokrasi atau nilai dan norma budaya bangsa Indonesia, tetapi dilakukan dengan anarkhis, merusak, bahkan telah melanggar etika berbangsa dan bernegara.

Contohnya para pengunjuk rasa melakukan pelecehan terhadap simbol-simbol negara dengan membakar gambar presiden dan wakil presiden, karena aksi unjuk rasa anarkis tidak dikenal dalam alam demokrasi.

Saya berharap masyarakat Indonesia bisa memahami kehidupan berdemokrasi dan tidak malah mencederai demokrasi dengan tindakan anarkhis dan melanggar etika kepatutan.

Kita bisa menyampaikan protes dengan santun dan proporsional sesuai kepribadian bangsa Indonesia yang terkenal ramah dan santun.

Pribadi Adi Paringgo (pringgoadi@plasa.com)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.