inovasi portal berita
Minggu, 12 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Kemana Pengacara Pemberani China Itu?

Headline
Gao Zhisheng - guardian.co.uk
Oleh: Vina Ramitha
Kamis, 4 Februari 2010 | 15:28 WIB
INILAH.COM, Beijing - Genap setahun lalu, pengacara aktivis paling pemberani di China, Gao Zhisheng, menghilang begitu saja. Hingga kini, masih tak jelas rimbanya. Kemana Gao pergi?
Lembaga pemerintah yang memonitor hilangnya Gao, tak mampu menjelaskan kemana pria itu pergi. Hilangnya Gao menjadi kasus yang cukup kontroversial di China mengingat pemerintah Negeri Tirai Bambu ini banyak dikecam terkait masalah pelanggaran HAM.
Pihak keluarga dan kawan-kawan Gao bahkan tak bisa menduga, siapa sebenarnya yang menahannya. Polisi atau kelompok lain yang memang mendendam terhadap pria itu. Adik Gao, Zhiyi, adalah yang melaporkan kehilangan kakaknya. Namun menurutnya, sikap polisi tak pernah jelas dan tak berperan aktif.
Anehnya, ia mengatakan Deplu China memberitahu bahwa Gao berada dimana ia seharusnya berada. Selain itu, media milik pemerintah juga sama sekali tak memberitakan hilangnya Gao. "Mereka berkata, mengapa terburu-buru? Tunggu sajalah," kata Zhiyi, seperti dilansir AP, Kamis (4/2).
Respon inilah yang membuat keluarga dan kawan Gao geram. Kehebohan mereka membuat kalangan internasional pun mulai memberikan perhatian. Termasuk AS dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sejak lama mengecam pelanggaran HAM China. Sejumlah kelompok aktivis HAM menyalahkan pemerintah atas hilangnya Gao.
Seorang manajer riset di perusahaan China yang berbasis di AS, Dui Hua Foundation, Joshua Rosenzweig, mengakui, China memang rentan dengan kasus semacam ini. Terlihat dari kebijakan pengatatan dan penyensoran internet mereka.
Kemudian juga eksekusi WN Inggris yang diduga mengidap masalah mental. Demikian pula dengan sanksi untuk perusahaan yang terlibat atau merencanakan perdagangan senjata dari AS ke Taiwan. "Kombinasi ini membuat situasi di China makin parah," kata Rosenzweig.
Dui Hua memiliki reputasi sukses dalam menegosiasikan kebebasan tahanan politik China. Namun dalam kasus Gao, mereka juga pusing tujuh keliling. Pasalnya, berita dan keberadaan pria itu sama sekali tak ada. Terakhir, yayasan Dui Hua mendengar pihak berwajib berkata tak menahan Gao, pada November 2009 lalu.
"Saya rasa pada poin ini, sulit menentukan ia masih hidup dan dalam keadaan baik-baik saja," lanjut Rosenzweig. Pemerintah AS yang mengkhawatirkan Gao, berusaha melakukan pendekatan diplomatik kepada China. Pendekatan itu mereka lakukan baik di Beijing, maupun di Washington.
Semua usaha itu gagal. Panggilan telepon dan faksimil yang dikirim ke Kepolisian Beijing tak pernah mendapat tanggapan. Usaha pencarian informasi mengenai Gao benar-benar dihiraukan. Kunjungan keluarga ke pengadilan pekan ini, tetap tak membuahkan hasil.
Mengapa Gao mengalami semua ini? Rupanya, pengacara ini telah menyentuh isu yang sangat sensitif. Ia membela aktivitas beragama yang dilarang pemerintah China. Yakni penganut Kristen yang harus bergerak di bawah tanah, serta kelompok spiritual Falun Gong yang pengikutnya kerap mengalami penyiksaan.
Sesaat sebelum menghilang, Gao sempat mengeluarkan pernyataan publik. Ia mengatakan dipukuli hingga terluka di tujuh bagian berbeda pada tubuhnya. Termasuk di antaranya setruman listrik pada area kemaluan dan rokok yang disundutkan ke matanya.
Penyiksaan itu ia terima ketika ditahan satuan keamanan China, kemungkinan besar polisi, pada 2007. "Ajal pasti menjemput, jika kau menyiarkan hal ini ke seluruh dunia," kata Gao, yang merupakan peringatan dari rekan tahanannya, ketika itu.
Pendukung Gao saat ini tengah berencana mengadakan acara peringatan setahun hilangnya pria itu di Beijing. Kelompok pengacara pembela HAM di China ikut mendukung acara ini, dan berkata perlunya mengambil aksi untuk melawan Beijing yang selama ini bertindak diam-diam.
Sementara istri Gao, Geng He, lebih banyak berbicara di media Amerika seperti The Washington Post mengenai hilangnya sang suami. Ia yakin, suaminya saat ini masih ditahan pihak berwajib Beijing di sebuah lokasi rahasia. "Mereka memang diam saja, namun inilah yang membelah negara kita. Saatnya bertindak," paparnya kepada suratkabar itu. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.