INILAH.COM, Jogyakarta - Jogyakarta memang memiliki berjuta pesona soal pariwisata. Tak hanya menjual yang sudah ada, kini Jogyakarta juga menjual pesona desa wisatanya.
"Keunikan itu yang selama ini menjadi garapan para pengelola desa wisata di DIY. Namun untuk menjadi unik dan menarik sehingga bisa mendatangkan wisatawan, bukan pekerjaan yang mudah bagi pengelola desa wisata," ungkap Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Tazbir, di kantornya, di Jogyakarta, Rabu (3/2).
Salutnya, meskipun tak mudah, sampai saat ini sudah ada sekitar 45 desa wisata dengan berbagai keanekaragaman wisata budaya. "Dari jumlah itu, pengelolaannya masih terkesan tradisional, sehingga untuk target promosi maupun pemasarannya belum bisa optimal, karena tidak ada dana untuk kegiatan tersebut," katanya.
Namun, kata Tazbir, jika melihat potensi desa wisata yang ada di DIY, sebenarnya sangat layak untuk dijual kepada wisatawan. "Apalagi desa wisata di daerah ini umumnya memiliki alam yang indah dengan kegiatan keseharian warganya, tentu merupakan tradisi yang bisa disuguhkan kepada wisatawan," katanya.
Menurutnya, keunggulan itu belum termasuk makanan san minuman tradisional khas desa setempat, serta seni dan budayanya yang juga perlu lebih ditonjolkan, sehingga menambah daya tarik desa setempat.
Ia mengatakan di beberapa desa wisata di DIY seperti Petingsari, Sambi, Banyusumilir, Kasongan, Nglinggo, Nglanggeran, dan Kampung Dipowinatan, sebenarnya masing-masing memiliki keunikan tersendiri.
"Oleh karena itu, antara pengelola desa wisata dan pemerintah daerah setempat harus saling bersinergi, karena keuntungan dari menjual desa wisata juga menjadi citra positif pariwisata daerah setempat," katanya.
Selain itu, kata dia, layanan akomodasinya juga harus memadai, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir untuk mengunjungi dan tinggal beberapa hari di desa tersebut. [*/aji]