INILAH.COM, Jakarta Koreksi indeks saham hari ini kompak dengan pelemahan rupiah di pasar uang. Positifnya data ADP National Employment Report di AS memicu penguatan dolar. Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (4/2) ditutup melemah 20 poin (0,215%) terhadap dolar AS menjadi 9.315/9.320 dibandingkan kemarin di level 9.295/9.300. Berdasarkan data Bloomberg pukul 17.00 WIB rupiah ditransaksikan melemah 31,25 poin (0,33%) menjadi 9.326 per dolar AS.
Ariston Tjendra, periset dan analis PT Monex Investindo Futures mengatakan, pelemahan rupiah hari ini, seiring penguatan dolar AS. Hal ini dipicu oleh positifnya sentimen dari data fundamental AS.
Salah satunya adalah membaiknya
Automatic Data Processing (ADP) National Employment Report di AS. Menurutnya, survei tenaga kerja ADP mendorong penguatan dolar AS.
Karena itu, rupiah hari ini melemah ke level 9.315. Bahkan sepanjang perdagangan sempat melemah ke level 9.335, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (4/2).
Ariston lebih lanjut memaparkan, membaiknya data tenaga kerja akan memicu kenaikan suku bunga di AS (
The Fed Fund Rate) sehingga memicu penguatan mata uangnya.
Perkiraan sebelumnya data tenaga kerja ADP di level minus 30 ribu orang. Ternyata, ADP merilis tenaga kerja hanya minus 22 ribu orang. Padahal data sebelumnya masih minus 84 ribu, ujarnya.
Karena itu, data tenaga kerja AS membaik. Namun survei ini tidak termasuk pejabat pemerintah alias hanya sektor swasta saja. Penguatan dolar AS juga dipicu indeks Dow Jones yang melemah kemarin. Hal ini dipicu rontoknya saham-saham sektor farmasi setelah Pfizer mengeluarkan
outlook yang mengecewakan.
Hal itu diperburuk dengan rencana Presiden Obama untuk merampungkan rancangan peraturan perbankan dan sektor kesehatan. Rencana Obama tersebut dikhawatirkan akan menggerus kinerja perusahaan-perusahaan di sektor ini.
"Faktor politik secara jelas memberikan tekanan ke pasar lagi dan ini mungkin akan menghentikan
rally untuk sementara waktu sampai kita mendapatkan kejelasan mengenai reformasi ini," imbuhnya.
Karena itulah dolar AS juga menguat terhadap semua mata uang utama. Terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) dolar AS ditransaksikan menguat ke level US$1,3853.
Sementara itu, dari internal terutama dari penetapan BI rate di level 6,5% oleh Bank Indonesia tidak terlalu berpengaruh ke pasar uang. Tapi, dari sisi perbedaan suku bunga, mata uang RI sebenarnya masih atraktif. Sayangnya, dolar AS terlalu kuat, sehingga rupiah pun melemah, pungkasnya.
Nilai tukar rupiah sore ini terpantau ditransaksikan pada level 8.224 terhadap dolar Australia, di posisi 12.954 terhadap mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro), dan di angka 6.610 terhadap dolar Singapura.
Sementara itu, mata uang kawasan mendominasi pelemahan terhadap dolar AS. Hanya tiga mata uang yang menguat. Yen Jepang naik 0,31% menjadi 90.690, dolar Australia terangkat 0,36% ke level 0.879, dan dolar New Zealand terapresiasi 1,02% ke angka 0.695 per dolar AS.
Selebihnya mata uang kawasan melemah. Dolar Hong Kong turun 0,03% ke posisi 7.769, dolar Singapura terkoreksi 0,09% menjadi 1.414, dolar Taiwan terdepresiasi 0,15% ke level 32.012, dan won Korsel melandai 0,14% terhadap dolar AS ke angka 1.150.
Begitu juga dengan peso Filipina yang jebol 0,34% ke posisi 46.170, rupee India ambrol 0,50% menjadi 46.207, yuan China lesu 0,001% ke level 6.826, ringgit Malaysia tergelincir 0,49% ke angka 3.419, dan baht Thailand terperosok 0,09% ke posisi 33.105 per dolar AS. [mdr]