INILAH.COM, Jakarta Rupiah Jumat (5/2) akan melanjutkan pelemahan seiring penguatan dolar AS. Data suku bunga Bank of England dan tenaga kerja AS menjadi katalisnya.
Analis valas Tony Mariano mengatakan, tidak ada alasan bagi rupiah untuk melanjutkan penguatan. Sebab semua data mendukung penguatan dolar AS, termasuk perkiraan Bank Sentral Inggris, Bank of England (BoE) akan mempertahankan suku bunga.
Apalagi, sentimen negatif di bursa saham membuat pelaku pasar memilih profit taking dan beralih ke dolar. Rupiah ada peluang melemah, dan akan diperdagangkan pada kisaran 9.280-9.350 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM, Kamis (4/2), petang.
Pasar saat ini menantikan pertemuan BoE, yang diharapkan akan mempertahankan suku bunga. Namun ada ekspektasi BoE malah menaikkan suku bunga, yang membuat euro tak mampu menguat dan menopang rupiah.
Selain itu, di bursa saham ada reaksi negatif karena tekanan inflasi global. Akibatnya, mata uang emerging market tertekan. Investor ambil untung di bursa dan membeli dolar, lanjutnya.
Di Amerika, dolar juga mendapat dukungan dari ekspektasi data klaim pengangguran (jobless claim) yang membaik. Sejumlah indikator AS yang diprediksikan positif ini mengirimkan sinyal yang mendukung mata uang mereka. Sehingga rupiah tak memiliki alasan untuk menguat, ujar Tony.
Hal senada diungkapkan Ariston Tjendra, periset dan analis PT Monex Investindo Futures. Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan sideways cenderung melemah seiring penguatan dolar AS. Rupiah akan bergerak pada kisaran 9.300-9.350, katanya, ketika dihubungi terpisah.
Penguatan dolar AS dipicu data non-farm payroll di AS yang diekspektasikan menjadi positif 5 ribu orang. Padahal, sebelumnya minus 85 ribu orang. Artinya, ada perekrutan 5 ribu orang. Ini sangat positif bagi dolar AS sehingga rupiah berpeluang tertekan, imbuhnya.
Meski dirilis malam, namun pelaku pasar biasanya mengantisipasi sejak pagi. Menurutnya, pasar akan wait and see sehingga memicu penguatan dolar AS. Namun pergerakannya tidak terlalu besar sebagaimana kemarin, ungkapnya.
Membaiknya non-farm payroll, lanjut Ariston akan memicu ekspektasi kenaikan suku bunga sehingga dolar AS menguat. Sebab, data tenaga kerja merupakan salah satu pertimbangan The Fed untuk menaikkan suku bunga, imbuhnya.
Selain non-farm payroll, akan dirilis juga data pengangguran (unemployment rate) bulanan. Tingkat penganggurannya diekspektasikan naik menjadi 10,1% dari sebelumnya 10%.
Namun angka ini sebenarnya sudah diketahui pasar karena merupakan akumulasi dengan bulan-bulan sebelumnya. Karena itu, pasar hari ini lebih fokus pada data non-farm payroll daripada tingkat pengangguran, pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Kamis (4/2)ditutup melemah 20 poin (0,215%) terhadap dolar AS menjadi 9.315/9.320. [vin/ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !