INILAH.COM, Jakarta - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengaku tak sakit hati dengan pernyataan Sekjen Partai Demokrat Amir Syamsuddin terkait desakan reshuffle kabinet kepada para menteri yang berasal dari partai berbasis Islam ini. Dalam dunia politik, PKS sadar tak boleh mengenal adanya sakit hati.
Demikian diutarakan anggota Komisi III DPR Fraksi PKS Nasir Djamil kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (5/2). "Kalau politisi engga boleh sakit hati, kalau sakit hati namanya bukan politisi dong, tapi peragawati," imbuhnya.
"Menurut saya, ini seperti ada salah paham di kalangan Partai Demokrat, barangkali juga ada komunikasi yang tidak sampai ke Amir. Pada saat pertemuan koalisi, tidak ada pembicaraan sampai kesitu," tambah Nasir.
Ia pun mengatakan selama beberapa kali pertemuan koalisi tersebut tak ada satu kalimat pun yang membahas mengenai reshuffle atau pergantian menteri dalam kabinet, apalagi menegur kinerja PKS dalam koalisi. Menanggapi hal tersebut, anggota PKS asal Nangroe Aceh Darusalam ini mengaku tak mau terpancing.
"Memang ini gayanya Pak Amir yang suka meledak-ledak, jadi kami paham dan tidak terpancing atau membalas. Tapi yang harus dilakukan sebenarnya adalah komunikasi intensif. Dalam MoU atau kontrak kesepakatan koalisi sendiri disepakati bahwa kalau Presiden SBY ingin mengganti menteri, maka harus diberitahu lebih dulu partainya, tdk
langsung diganti begitu," tutur alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniri Banda Aceh ini. [jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !