INILAH.COM, Jakarta - Wall Street anjlok pada perdagangan Kamis (4/2), dipicu oleh laju ekonomi yang lebih lamban dari ekspektasi para investor. Dow Jones pun sempat diperdagangkan pada level dibawah 10.000, ini untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir.
Lantai bursa dibanjiri sentimen negatif, termasuk meningkatnya utang pada negara-negara Eropa (Yunani, Spanyol, Portugal) dan meningkatnya jumlah pengajuan klaim insentif pengangguran AS, memicu para investor untuk mengalihkan dananya keluar dari pasar saham dan komoditas.
Selain itu, kekawatiran akan lebih banyaknya sentimen negatif pada Jumat (5/2) sehubungan akan dilaporkannya tingkat pengangguran, juga menjadi pemicu pelemahan indeks.
Tingginya permintaan akan produk investasi yang lebih aman, mendongkrak nilai tukar dolar AS dan surat utang negara, serta menekan nilai tukar euro. Indeks utama turun sekitar 3,1% ke level terendahnya dalam 3 bulan. Dow turun 268 poin dan sempat diperdagangkan dibawah level 10.000 untuk pertama kalinya sejak 6 November 2009. Penurunan Dow sebesar 2,6% merupaka yang terbesar dalam 7 tahun terakhir dan merupakan yang ke-9 kalinya dalam jangka waktu 14 hari perdagangan.
Data-data ekonomi tersebut menampar para investor akan lambannya proses pemulihan ekonomi yang terjadi. Sekaligus menimbulkan pertanyaan, apakah pasar saham akan dapat pulih.
Departemen Tenaga Kerja melaporkan, jumlah klaim insentif pengangguran naik 8.000 menjadi 480 ribu pekan lalu. Laporan ini menepis harapan para investor akan terjadinya penurunan pada klaim tersebut. Angka tersebut merupakan yang keempat kalinya dalam lima minggu terakhir.
Pada penutupan perdagangan Kamis, Dow turun 268,37 poin (2,6%) ke 10.002,18. Dow telah turun 723 poin atau 6,7%, sejak penutupan pada 19 Januari lalu. S&P 500 turun 34,17 poin (3,1%) ke 1.063,11 dan Nasdaq turun 65,48 poin (3%) ke 2.125,43. [mre]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !