INILAH.COM, Iqaluit Tujuh negara yang tergabung dalam kelompok G7 meminta AS dan China menjadi pemimpin pemulihan ekonomi dunia. Terutama dalam menyeimbangkan pertumbuhan global.
"Jika dilihat ke depannya, ketidakseimbangan global akan terus meluas, seiring pemulihan harga minyak dan pertumbuhan global. Meski pertumbuhan ini masih lebih rendah ketimbang periode sebelum krisis," demikian pernyataan tertulis G7, usai pertemuan di Iqaluit, Kanada, seperti dilansir Fox News, Jumat (5/2).
Di sisi lain, tambahnya, China masih terus mengalami surplus terhadap dolar AS. Kelompok negara industri termaju ini pun menyimpulkan AS dan China harus memegang peranan utama dalam menyeimbangkan pertumbuhan global.
Untuk mencapai hal tersebut, AS harus memperbanyak cadangan domestik, memangkas defisit anggaran, dan melakukan perbaikan regulasi finansial. Demikian pula konsolidasi fiskal harus tetap menjadi prioritas. Stimulus sebaiknya ditarik ketika perekonomian sudah pulih benar, untuk mencegah pasar menjadi labil dan berpotensi bubble," lanjut dokumen itu.
Sementara China harus meningkatkan konsumsi domestik dan memperbaiki jaring keamanan sosial. Tingkat suku bunga Negeri Tirai Bambu ini bisa berujung pada ketidakseimbangan global dan bahkan membahayakan kestabilan finansial China sendiri. "Beijing bisa mulai rebalancing model pertumbuhan mereka tahun depan," pungkasnya.
G7 adalah kelompok negara industri termaju, dengan anggota AS, Kanada, Jepang, Prancis, Jerman, Inggris, dan Italia. Pertemuan mereka biasanya dilakukan pada level menkeu dan gubernur bank sentral masing-masing negara. [ast]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !