INILAH.COM, New York Amerika menuding China memanipulasi yuan dan meminta segera merevaluasi mata uangnya. Namun, Negeri Tirai Bambu itu gigih menolaknya.
"Tudingan yang salah dan tekanan takkan memecahkan isu ini. Berdasarkan keseimbangan pembayaran internasional, serta permintaan dan suplai pasar, yuan berada pada level yang masuk akal dan imbang," papar Jubir Deplu China Ma Zhaoxu, seperti dilansir CNBC, Jumat (5/2).
Komentar itu keluar setelah Presiden AS Barack Obama, dalam pernyataannya di hadapan senator Partai Demokrat, meminta China menghentikan manipulasi mata uang. Pasalnya, aksi China ini dapat mendorong harga produk AS membengkak, sementara produk China mengalami deflasi. "Apalagi hal itu dilakukan secara rekayasa," kata Obama.
Sejumlah ekonom setuju dengan pernyataan Obama, bahkan ada yang menilai, yuan saat ini berada di bawah nilai sebenarnya (undervalued) hingga 25-40%, dibandingkan dolar atau mata uang lainnya.
Devaluasi yuan dan dolar AS melebar sejak Juli 2005, ketika pemerintah China yang mendapat tekanan dari mantan Presiden George W Bush, memutuskan mengaitkan mata uang Yuan ke dolar AS. Selain float dalam jarak dekat ke dolar dan mata uang lainnya. Dalam periode itu, yuan sempat terapresiasi 21%.
Namun, sejak Juli 2008 hingga kini, mata uang itu berada pada nilai yang sama, dimana satu dolar selalu setara dengan 6,83 yuan.
Terkait masalah ini, pihak China menyarankan agar Amerika berusaha menjaga kestabilan nilai mata uang dolar AS. Negeri macan Asia yang memiliki cadangan devisa sebesar US2,4 triliun ini adalah negara yang paling banyak memegang kredit AS. [ast]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !