INILAH.COM, Jakarta - Meski para analis politik meragukan bahwa Presiden SBY berani melakukan reshuffle kabinet, ada sinyal politik dari kubu Partai Demokrat bahwa kecenderungan perombakan kabinet itu tampaknya kian kuat. Bahkan ada kesan kabinet koalisi di ambang perpecahan.
Usia kabinet pelangi yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum seumur jagung. Tapi, gara-gara penyelidikan kasus Bank Century di Dewan Perwakilan Rakyat, Kabinet Indonesia Bersatu jilid II itu terancam berantakan.
Isyarat soal kemungkinan perombakan (reshuffle) kabinet datang dari sejumlah politikus Partai Demokrat, partai lokomotif koalisi pendukung pemerintah Yudhoyono.
Setelah Sekretaris Jenderal Demokrat Amir Syamsuddin melemparkan isu panas reshuffle, kemarin giliran Ketua Fraksi Demokrat DPR Anas Urbaningrum menyampaikan isyarat senada.
Meski Presiden Yudhoyono pasti menginginkan koalisi tetap utuh dan solid, namun kemungkinan perombakan kabinet, cenderung menguat.
"SBY mungkin tidak tahan jika Pansus Century Gate membongkar semua lini masalah dan pelanggaran yang dilakukan," kata pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Airlangga Pribadi.
Partai koalisi memberi tanggapan beragam atas sinyal reshuffle itu. Wakil Ketua Pansus Hak Angket Bank Century dari Partai Keadilan Sejahtera, Mahfudz Siddiq, menilai isyarat reshuffle terburu- buru dan emosional.
"Kepanikan seperti itu akan menjadi blunder saja," katanya.
Di antara parpol koalisi SBY-Boediono, PKS dan Golkar yang dianggap 'membakar' isu pemakzulan presiden.
Kedua parpol itu, di satu pihak menyatakan tidak akan ada pemakzulan, Namun, di sisi lain mengatakan mungkin saja ada pemakzulan.
Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok menganggap, isu pemakzulan yang datang dari PKS dan Golkar memiliki satu tujuan. Tidak lain hanya untuk menaikkan posisi tawar.
"Pansus yang membakar-bakar isu itu, yang merespon orang luar. Orang Pansus terutama PKS dan Golkar. Pokoknya watak politik bargaining position," katanya.
Sikap mendua PKS dan Golkar ini juga dilihat oleh Sekjen Partai Demokrat, Amir Syamsudin. Peringatan reshuffle kabinet terhadap menteri pun dilontarkan Amir. Bukan ancaman.
Amir ingin memperingatkan parpol koalisi. Jika parpol koalisi ingin keluar dari bagian koalisi alias oposisi, Amir mempersilakan. Itu berarti suatu isyarat bahwa isu Kabinet Koalisi di ambang perpecahan, bukan hal mustahil lagi.
Apakah dengan kabinet yang diisukan bakal pecah, akan membuat istana goyah?
"Bisa ya, bisa tidak. Tergantung bagaimana SBY menggunakan kecakapan politiknya untuk mengelola situasi dan suasana pemerintahannya sendiri," kata antropolog politik Universitas Gadjah Mada Arif Mundayat PhD. [mor]