INILAH.COM, Pekanbaru - Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berdaya 2x100 megawatt (MW) yang akan dibangun di Kawasan Industri Tenayan Raya Pekanbaru, Riau, dengan kebutuhan 700 ribu ton batubara per tahun.
"Satu pembangkit memerlukan sekitar 350 ribu ton dalam setahun, berarti untuk dua pembangkit dua kali lipatnya," kata Direktur Perencanaan dan Teknologi PT PLN Nasri Sebayang dari Pekanbaru, Jumat (5/2).
Nasri mengatakan hal itu terkait kepastian PLN untuk menetapkan Kawasan Industri Tenayan di Pekanbaru sebagai lokasi pembangunan PLTU 2x100 MW. Sebelumnya terdapat polemik dalam penentuan lokasi karena ada tiga opsi tempat pembangunan yakni Pekanbaru, Dumai dan Indragiri Hulu. "Tenayan akhirnya dipilih berdasarkan kajian ekonomis, teknis dan instalasi sistem. Selain itu, kajian dampak lingkungan juga sudah ada," katanya.
Mengenai penggunaan bahan bakar, lanjutnya, PLN akan tetap menggunakan batu bara berkalori rendah yakni sekitar 4.000 kilokalori. Untuk pasokan bahan bakar tidak akan terkendala karena Riau memiliki banyak cadangan. "Angkutan batu bara akan menggunakan kapal ponton melalui Sungai Siak karena lokasi pembangkit berada di tepi sungai," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Distribusi Indonesia Barat pada Direktorat Operasi PT PLN Karel Sampe Payung mengatakan proses tender PLTU 2x100 MW dijadwalkan paling lambat pada akhir Februari. Menurut dia, pengerjaan pembangkit tersebut bisa memakan waktu sekitar 30 bulan. [*/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !