INILAH.COM, Jakarta - Indeks pada perdagangan pekan pertama Februari tidak dapat mempertahankan di level 2.600. Sebab sentimen negatif dari eksternal cukup kuat menekan indeks kembali ke level 2.500.
Menurut analis saham Sinarmas Securities, Alfiansyah, sebenarnya sentimen dari internal cukup positif. Hal ini mulai dari ekspektasi BI rate tetap di level 6,5%, inflasi masih di bawah 1% dan cadangan devisa bulan Januari hampir mencapai US$70 miliar menunjukan ekonomi Indonesia cukup positif. "Namun karena faktor eksternal dari kekhawatiran investor terhadap gagal bayar di eropa indeks tidak dapat bertahan di level 2.600," jelasnya kemarin.
Sebenarnya harga minyak pekan ini sempat naik ke US$77 per barel. Saham sektor pertambangan dan komoditi pun ikut naik. Indeks pun sempat naik hingga 2% meskipun pada perdagangan berikutnya langsung terkoreksi.
Tekanan terhadap indeks mulai berat ketika eropa mengalami kesulitan likuiditas. Belum lagi data ekonomi AS yang tidak menggembirakan seperti data perdagangan dan data klaim pengangguran. Kondisi ini memberikan sentimen negatif untuk indeks wall Street dan bursa regional. Secara bersamaan harga minyak dunia pun terjerembab di level US$74 per barel. bertepatan dengan perdagangan akhir pekan maka dimanfaatkan untuk merealisasikan keuntungan. Invesstor asing pun lebih senang memegang dana tunai dalam kondisi saat ini. [hid]