INILAH.COM, Jakarta Rupiah Senin (8/2) diprediksikan melanjutkan koreksi. Masih berlangsungnya tekanan capital outflow di pasar saham menjadi sentimen negatif yang menghantui rupiah. Analis valas dari Valbury Asia Nico Omer Jonckheere mengatakan, rupiah masih memiliki potensi melemah karena berlanjutnya
capital outflow di pasar saham. Pekan ini, tekanan jual rupiah sangat tinggi. Akibatnya bergerak pada kisaran 9.350-9.500 per dolar AS, katanya kepada
INILAH.COM, kemarin.
Menurutnya, arus dana keluar yang masih akan terjadi di bursa domestik, juga dialami sejumlah bursa lainnya. Hal ini dipicu memburuknya situasi kredit di Eropa, yang berpotensi pada
default.
Meningkatnya peralihan kredit gagal (
credit default swap/CDS), memang membuat situasi Eropa tertekan. Sebab, negara-negara yang mengalami masalah itu harus membayar premi asuransi obligasi pemerintah yang makin meningkat. Ini merupakan tanda naiknya risiko deflasi. Euro tertekan dan mendukung tren penguatan dolar AS, lanjutnya.
Nico menilai, sebenarnya fundamental perekonomian AS biasa saja, dengan variasi dari rilisnya sejumlah data perekonomian AS. Namun, dalam situasi Eropa yang lebih buruk, tak ada pilihan bagi investor. Mereka memilih keluar dari
emerging market dan kembali lagi ke
safe haven, paparnya.
Sedangkan di Asia sendiri, imbuh Nico, tidak terjadi
decoupling karena semua terimbas aliran dana keluar. Namun,
yield yang tinggi di Indonesia menyebabkan sebagian dana tertahan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Utang Negara (SUN). Adanya dana yang tertahan ini membuat pergerakan rupiah terbatas. Rupiah masih bisa bergerak karena masih berimbal hasil tinggi dan suku bunga yang masih dipertahankan, pungkasnya.
Di sisi lain, pengamat pasar uang, David Sumual memperkirakan pergerakan rupiah awal pekan ini stabil cenderung melemah. Hal ini seiring aksi
profit taking asing di pasar saham. Rupiah akan bergerak dalam kisaran 9.390-9.450, katanya kepada
INILAH.COM, ketika dihubungi terpisah.
Menurutnya, akhir pekan lalu asing sudah merealisasikan keuntungan hingga Rp600 miliar dalam sehari. Mereka keluar dari saham-saham perbankan dan pertambangan seiring penurunan harga minyak mentah dunia ke US$ 72 per barel

. Pasar masih memanfaatkan momentum harga komoditas dan sentimen negatif dari Eropa, ujarnya.
Namun, lanjutnya, melihat pelemahan rupiah yang tidak terlalu tajam akhir pekan lalu, David memperkirakan hari ini belum akan terjadi arus
capital outflow yang deras. Pelaku pasar lebih bersikap
wait and see dan belum beralih ke instrumen investasi lain seperti obligasi. Mereka masih hati-hati dengan memegang
cash, belum pindah portofolio lain apalagi ke luar negeri paparnya.
Ia menilai, investor asing saat ini masih dalam tahapan rekonsolidasi di dalam negeri. Sebab, pasar menyisakan kekhawatiran adanya
big fund atau
big player yang secara tiba-tiba memindahkan portofolionya ke luar negeri, berlanjut pada
capital outflow. Ini akan diikuti investor lain sehingga rupiah berpeluang tertekan, imbuhnya.
Hal itu akan terjadi jika ada berita eksternal yang signifikan maknanya bagi pasar. Namun untuk saat ini, tampaknya masih
undercontrol. Trennya untuk kuartal pertama ini, rupiah masih bagus, pungkasnya.
Kurs rupiah

di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (5/2) ditutup melemah 90 poin (0,966%) terhadap dolar AS menjadi 9.405/9.410. [vin/ast/mdr]