INILAH.COM, Jakarta - Munculnya wacana reshuffle kabinet dari partai koalisi, adalah ancaman bagi penyelidikan kasus Century oleh Pansus Hak Angket.
Reshuffle kabinet adalah langkah politik. Sementara, penyelidikan yang dilakukan di tingkat Pansus DPR RI adalah penyelidikan
politik.
Nah, pada saat ini antara kubu pendukung pemerintah dan lawannya, masing-masing mulai menggunakan kartu kepentingan politik untuk menangani kasus Century.
Dalam pernyataan pers yang diterima INILAH.COM, Minggu (7/2), Audy Wuisang, Program Director Strategic Indonesia melihat, situasi ini telah mengesankan bahwa demokrasi telah tersandera oleh partai politik.
Itu karena kompromi politik telah tersedia di balik garangnya perdebatan di Pansus. Partai Golkar dan PKS yang disebut-sebut posisinya sangat menentukan hasil akhir.
Karena itu, keduanya masih belum mencerminkan pandangan akhir. PKS kukuh menyebut adanya kejahatan terorganisasi sementara GOLKAR belum bersikap.
Nah, ini bisa memperburam arah penuntasan skandal Century.
Selain itu, wacana reshuffle kabinet yang muncul dari Partai Demokrat menunjukkan partai berkuasa tersebut semakin tidak senang dengan sikap kawan-kawan koalisinya.
Hitung-hitungan politik menunjukkan ancaman reshuffle selalu ampuh untuk menarik kembali dukungan politik Partai Koalisi. Terlebih jika jalan panjang memperkarakan Skandal Century tidak menunjukkan jalan singkat.
Jika kompromi memang tercapai dengan hasil semua senang, maka aksi dramatis
dan theatrical di Pansus Angket Skandal Century hanya akan dikenang
sebagai kegenitan politik.[*/ims]