inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Nasihat Hidup Orang Jawa

Headline
divapress.com
Oleh:
Senin, 8 Februari 2010 | 03:09 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Orang Jawa dikenal sebagai kelompok etnis yang memiliki kekayaan falsafah hidup dan unggah-ungguh (etika) yang sangat luas. Sarat peribahasa, langgam, dan konotasi. Hati bisa saja tidak senang, namun mimik dan tata bahasa tetap manis.

Sungguh sangat berbeda dengan sejumlah etnis lain berkarakter tegas dan apa adanya. Orang Jawa sangat mengedepankan harmoni berbahasa dan kiasan dalam bersikap.
Sangat mudah menemukan ragam falsafah hidup dari jagat Jawa yang sangat dalam maknanya, penuh kearifan, dan konotatif ungkapannya. Misal, Aja ngomong waton, nanging ngomonga nganggo waton (jangan asal bicara, tetapi bicaralah dengan alasan yang jelas), Aja rumangsa bisa nanging bisaa rumangsa (jangan merasa bisa, tapi bisalah merasa atau menggunakan perasaan), Sepuh sepa, tuwa tuwas (tua hambar atau tidak memiliki rasa lagi atau orang tua yang sia-sia), Bandha bisa lunga (pangkat bisa loncat), bojo ayu bisa melayu (harta dapat pergi, jabatan dapat hilang, istri cantik bisa pergi, yang bermakna segala apa yang dimiliki bisa hilang kapan saja), dll.
Pembaca yang ingin tahu lebih banyak dan detail ragam falsafah hidup orang Jawa bisa menemukannya dengan terang, gamblang, dan plus penafsirannya dalam buku ini. Membaca buku langka ini layaknya kita tengah menerima siraman nasihat-nasihat hidup orang Jawa, yang kaya makna, filosofi, kekuatan bahasa, dan keutamaan etika.

Judul: Nasihat Hidup Orang Jawa
Penulis: Imam Budhi Santoso
Penerbit: Diva Press
Terbit: Februari 2010 [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
4 Komentar
Samar SMKN4 Madiun @ Sabtu, 27 Agustus 2011 | 21:42 WIB
bagus, saya setuju. Karaena saya orang jawa. Filsafat muncul karena pikiran yang jernih, makanya memilkiki banyak makna, artinya tergantung bagaimana memahami.
Bimo @ Senin, 2 Mei 2011 | 13:54 WIB
munafik atau tidak itu tergantung bagaimana orang itu memahami falsafah dalam perlilakunya dan tuturkata sehari-hari, Jangan salahkan falsafahnya tapi lihatlah orang yang menganutnya . . .
agree girl @ Jumat, 28 Januari 2011 | 11:30 WIB
yap gw setuju...pertamanya gw ga percaya dengan statement ini karena semua orang diciptakan sama tapi ternyata gw ngalamin sendiri ditusuk dari belakang ma salah satu suku d atas udah beberapa kali lg....di depan senyum2 manis banget di belakang nusuk pake piso....kasian bgt si ga berani ya...
ANGKI @ Senin, 8 Februari 2010 | 16:06 WIB
Tapi...perlu diakui juga falsafah Jawa yg seperti ini banyak juga membuat "sifat" orang yg menganutnya menjadi MUNAFIK....makanya bangsa Indonesia ini susah maju, karna ya itu tadi....masih banyak org yang munafik.....
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.