INILAH.COM, Jakarta - Akhir tahun ini, Indonesia diprediksikan akan mengalami deflasi sehubungan kesepakatan ACFTA.
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), naiknya angka inflasi untuk bulan Januari dipicu oleh kenaikan pada harga bahan makanan sekitar 10-15%. Adapun angka inflasi bulan lalu tercatat sebesar 0,84% atau 3,72% year on year.
"Ada kemungkinkan menurunnya harga-harga nanti akibat ACFTA yang akan menciptakan efek deflasi pada akhir tahun 2010," ungkap analis pasar modal David Cornelis, melalui surat elektronik yang diterima INILAH.COM, Minggu (7/2).
Prediksi inflasi yang tinggi untuk tahun ini, akan memicu kenaikan BI rate dan diprediksikan berada pada level 8% di akhir 2010. "Dengan adanya ekspektasi kenaikan inflasi yang relatif tinggi pada tahun ini," ungkapnya.
Seperti diketahui, BI pada masih mempertahankan posisi BI rate pada level 6,5% hingga kini.
Namun, David melanjutkan, the Fed yang diprediksikan akan menaikkan suku bunga acuan pada semester II 2010, akan memicu arus modal asing asing keluar. "Karena kekhawatiran atas carry trade dolar AS," ungkapnya.
Kendati demikian, David menilai, Indonesia masih sangat atraktif dan seksi bagi investor asing untuk saat ini dengan spread suku bunga antara FFR dan BI rate saat ini masih sangat lebar yaitu 625 bps. "Dan terlebih lagi peringkat utang Indonesia yang baru saja dinaikkan dari BB menjadi BB+," ungkapnya.
Sehingga indeks yang saat ini melemah, bukanlah suatu hal yang harus dikawatirkan dan sudah dieskpektasikan pada Januari lalu. "Tidak perlu bingung, tetapi tetap waspada dan menangkap momentum dan oportuniti yang ditawarkan oleh pasar (saham) saat ini (bargain hunting)," ujarnya. [mre]