INILAH.COM, Jakarta- Bayi merah itu menggeliat di atas ranjang kecil. Tangisnya pecah. Seorang perempuan dan dan menggendongnya. Susu botol diberikan. Bayi itu adalah anak negara.
Ya, perempuan itu bukan ibu atau pun saudaranya. Perempuan adalah seorang pengasuh di PSAA Balita Tunas Bangsa di Cipayung, Jakarta Timur. Di situ, anak-anak negara diasuh.
Anak negara, ialah anak-anak yang ditelantarkan. Apakah oleh orangtuanya atau oleh masyarakat.
Di panti itu terdapat 71 orang balita, mulai bayi yang masih merah hingga usia 6 tahun menjelang masuk Sekolah Dasar. Mereka adalah anak-anak yang ditelantarkan oleh orangtua kandungnya.
Anak-anak itu, diterlantarkan sesaat setelah dilahirkan. Bayi yang tak berdosa itu harus menghadapi dunia sendirian. Karena itu, mereka diselamatkan dan dipelihara oleh panti.
Kepala Panti, Susana Budi Susilowati mengatakan, kebanyakan anak-anak yang diasuh di panti itu, adalah mereka yang ditelantarkan di rumah sakit sesaat mereka dilahirkan. Bayi-bayi itu ditinggalkan begitu saja oleh orangtuanya.
Misalnya Ferdi. Bayi itu baru berusia satu bulan saat ditinggalkan oleh ayah-ibunya di Rumah Sakit Budi Kemuliaan, Jakarta. Bayi itu sendirian, tanpa orangtua, dan bahkan belum diberi nama.
Bisa saja itu bukan faktor kesengajaan, mungkin juga karena keterpaksaan. Orangtua mana yang tidak mencintai darah dagingnya sendiri? ata Susana kepada INILAH.COM di ruangan kantornya.
Sesaat, ada tiga bocah usia TK yang baru saja pulang dari sekolah. Ketiganya datang menghampiri Susana dan mencium tangannya.
Setelah itu, anak-anak itu pergi ke taman bermain. Mereka bergabung bersama teman-temannya bermain ayunan dan loncat-loncatan. Mereka diawasi dua pengasuh.
Sama, ketiga bocah itu adalah anak-anak negara. Mereka tidak tahu siapa orangtuanya, setelah hampir enam tahun dirawat di panti itu. Bagi mereka, para pengasuh di panti itu adalah orangtuanya.[bersambung/ims]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !