Kamis, 17 Mei 2012 | 07:03 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Harga Minyak Belum Susut Juga
Headline
Istimewa
Oleh:
web - Jumat, 13 Juni 2008 | 08:41 WIB
INILAH.COM, New York - Harga minyak naik tipis pada Jumat (13/6) pagi. Kenaikan terjadi di tengah volatilitas perdagangan yang tinggi karena para pedagang terus meresahkan berakhirnya masalah pasokan-permintaan dan melemahnya mata uang dolar AS.

Kontrak berjangka minyak utama New York, minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Juli, naik 36 sen menjadi ditutup pada 136,74 dolar AS per barel. Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Juli naik 1,07 dolar AS menjadi mantap pada 136,09 dolar AS.

Pasar terlihat mundur-maju secara tajam, kehilangan lebih dari lima dolar per barel pada awal perdagangan sebelum mengalami rally di akhir perdagangan.

Mata uang greenback naik pada Kamis terhadap mata uang utama lainnya setelah pemerintah AS melaporkan penjualan ritel meningkat lebih kuat dari perkiraan 1,0% pada Mei, dan penjualan ritel inti, tidak termasuk penjualan kendaraan, meningkat 1,2%.

Laporan menunjukkan sinyal dari penguatan belanja konsumen, pendorong utama ekonomi AS, yang memicu dolar AS naik. "Minyak berjangka melemah karena dolar AS menguat," kata analis dari Sucden, Nimit Khamar di London.

"Pasar-pasar minyak telah meningkat terpengaruh oleh kondisi dolar setahun terakhir, karena para pelaku pasar telah mengunakan komoditi dalam denominasi dolar sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan eksposur dolar mereka," kata dia.

Namun para analis lainnya, menunjuk bahwa pergerakan dolar tidak berdampak langsung terhadap harga minyak.

Kontrak minyak New York telah meroket 5,07 dolar AS menjadi ditutup pada 136,38 dolar AS pada Rabu, setelah publikasi laporan energi AS menunjukkan cadangan minyak mentahnya menyusut untuk kali keempat pekan berturut-turut.

Minyak mentah New York melesat ke level historis tertinggi 139,12 dolar AS pada Jumat lalu, ketika mencatat rekor kenaikan harian satu hari tertinggi 10,75 dolar AS. Minyak mentah Brent mencapai puncak tertinggi baru 138,12 dolar AS pada hari yang sama.

Presiden OPEC Chakib Khelil pada Kamis mengesampingkan kenaikan produksi oleh grup eksportir minyak meski ada tekanan terhadap kartel untuk membantu mengurangi tingginya harga minyak.

Khelil yang juga menteri energi Aljazair, mengatakan, OPEC tidak akan meningkatkan produksinya karena pasokan saat ini lebih besar daripada permintaan dan terdapat kelebihan produksi sekitar 500.000 barel per hari. Ia menjelaskan Irak telah meningkatkan produksinya dan Arab Saudi jugameningkatkan produksinya hingga 300.000 barel per hari.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan menyelenggarakan pertemuan pada 9 September untuk mengevaluasi pasar dan mengambil keputusan untuk menjamin stabilitas pasar.[*/L5]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.