INILAH.COM, Jakarta - Desakan Partai Demokrat kepada Presiden SBY agar melakukan perombakan (reshuffle) kabinet, justru mendorong sejumlah parpol peserta koalisi makin curiga soal keterlibatan kubu Demokrat dalam skandal Bank Century. Mengapa?
Para pengamat politik melihat, Partai Demokrat sengaja mengeluarkan isu perombakan kabinet karena itu merupakan satu-satunya komoditas untuk menertibkan partai koalisi.
Namun jika PKS dan Partai Golkar didepak dari Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II pasca usulan reshuffle oleh Partai Demokrat, justru pemerintahan SBY dikhawatirkan kian melemah . Bahkan analis politik LSI Burhanuddin Muhtadi menilai, bila dua partai itu benar-benar didepak, maka SBY sama saja melakukan 'bunuh diri' politik.
"Mendepak kedua partai itu dari koalisi, sama saja bunuh diri politik. Oposisi semakin kuat dan Demokrat makin tidak bisa kendalikan Pansus Bank Century," ujar Burhan.
Menurutnya, yang mungkin dilakukan SBY adalah mendekati ulang Golkar. Bila dibandingkan dengan PKS, Partai Golkar adalah pemegang kursi terbesar kedua di DPR. Golkar juga punya sejarah koalisi yang lebih harmonis dengan SBY.
Sejauh ini, isu reshuffle sangat riskan karena akan memperkuat proses penuntasan secara hukum oleh KPK dan secara politik melalui Pansus Bank Century. Selain itu, Partai Demokrat akan rugi jika Partai Golkar sampai keluar dari koalisi, karena Golkar merupakan kunci koalisi untuk mengamankan power politik Partai Demokrat.
Di atas kertas, koalisi pemerintah di DPR saat ini berjumlah 423 kursi (75,53%), terdiri dari Partai Demokrat 148 kursi, Partai Golkar 107 kursi, PKS 57 kursi, PAN 46 kursi, PPP 37 kursi dan PKB 28 kursi. Sedangkan oposisi hanya 137 kursi (24,47%) yang terdiri dari PDIP 94 kursi, Partai Gerindra 26 kursi, dan Hanura Partai 17 kursi.
Hitungan itu akan berubah jika usulan Partai Demokrat agar SBY mendepak PKS dan Partai Golkar diterima. Kekuatan oposisi akan menguat menjadi 301 (53,75%) dengan bergabungnya Partai Golkar dan PKS ke barisan PDIP cs. Sementara, koalisi pemerintah hanya sebesar 259 (46,25%) dengan hilangnya suara Golkar dan PKS.
Partai Demokrat mungkin siap menghadapi keluarnya Partai Golkar dari koalisi, tetapi Partai Demokrat akan rugi karena Partai Golkar menjadi kunci di parlemen untuk sampai tidaknya proses pemakzulan melalui Pansus Hak Angket Bank Century.
Boni Hargens, pengamat politik FISIP UI melihat apa yang dilakukan Partai Demokrat belakangan ini karena presiden dan Partai Demokrat terdesak dengan kinerja Pansus Hak Angket Bank Century yang mungkin di luar dugaan dan tidak terprediksi oleh Partai Demokrat. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !