inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Setelah Indeks Saham Longsor Berat

‘Wait and See’ Lebih Baik

Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Jagad Ananda
Senin, 8 Februari 2010 | 11:16 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Pemulihan ekonomi dunia, kelihatannya, masih jauh panggang dari api. Ketika AS baru akan merangkak, keuangan Portugal, Yunani dan Spanyol muncul sebagai masalah baru. Investor diingatkan untuk tidak gampang tergiur pada rebound yang terjadi di Wall Street, akhir pekan lalu.
Para analis saham dunia berpendapat, penguatan tipis yang terjadi pada indeks Dow Jones, akhir pekan lalu merupakan rebound sementara. Artinya, itu terjadi hanya karena pasar sudah mengalami oversold dan sudah banyak saham yang murah. Jadi bukan lantaran ada perbaikan ekonomi AS, kata salah seorang pengamat bursa.
Seperti diketahui, setelah terperosok hingga 180 poin, Dow Jones Industrial Average (DJIA) akhirnya kembali menguat menjelang penutupan pasar. Sehingga indeks bisa tetap bertahan di atas level psikologis (10.000), tepatnya di angka 1.012,23.
Tapi, ya itu tadi, pencapaian tersebut semata-mata karena pasar sudah mengalami jenuh jual. Besok atau lusa belum tentu itu terjadi lagi, kata seorang analis dari sebuah perusahaan sekuritas asing.
Kemungkinan serupa (penguatan tipis), diprediksi akan terjadi juga di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada awal pekan. Soalnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan kemarin telah mengalami longsor berat, 3,51%. Setelah penguatan tipis, pergerakan berikutnya fifty-fifty, kata sang analis.
Ia memprediksikan, kalau tidak melemah, indeks akan jalan di tempat. Pemicunya, memang, belum berubah. Pertama, kemungkinan asing melanjutkan aksi ambil untung masih cukup terbuka. Maklum, melemahnya sejumlah mata uang utama dunia terhadap dolar AS membuat mereka (investor) mencari tempat berlindung yang aman
Asal tahu saja, selama dua pekan terakhir, investor asing makin getol menarik dananya dari bursa-bursa di negara emerging market. Pada Jumat (8/2) saja, dana yang keluar dari negara berkembang mencapai US$1,6 miliar atau Rp15,2 triliun. Dari jumlah itu, hampir satu trilliun disedot dari BEI.
Lantas apa yang harus dilakukan investor di Jakarta? Beberapa pelaku pasar menyarankan agar pemodal untuk sementara wait and see. Tunggu sampai gejolak berhenti, kata seorang kepala riset.
Namun, bagi yang berani mengambil risiko, saat ini merupakan kesempatan yang tepat untuk melakukan koleksi. Alasannya, sudah banyak saham yang berharga murah.
Untuk itu, investor disarankan membeli saham-saham yang memiliki likuiditas tingggi tapi harganya sudah terkoreksi. Dari sektor pertambangan, misalnya, saham PT Bumi Resources (BUMI), PT Medco Energi (MEDC), PT Bukit Asam (PTBA dan PT Adaro Energy (ADRO layak dipilih lantaran harganya sudah jauh di bawah harga rata-rata harian.
Saham-saham tersebut diprediksi dalam jangka pendek bisa menghasilkan gain hingga 10%. Di luar itu, sejumlah efek perbankan juga mendapat rekomendasi yang cukup kuat. Pilihannya adalah PT Bank Mandiri (BMRI, PT Bank Central Asia (BBCA), PT Bank Negara Indonesia (BBNI dan PT Bank Tabungan Negara (BBTN). [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.