Minggu, 27 Mei 2012 | 15:20 WIB
Follow Us: Facebook twitter
IHSG Sesi Siang
Konsumsi-Tambang Tekan Bursa
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Ahmad Munjin
web - Senin, 8 Februari 2010 | 12:44 WIB
INILAH.COM, Jakarta Sesi tengah awal pekan ini, IHSG terkulai lemah, terimbas sentimen negatif bursa regional. Saham-saham unggulan terpantau anjlok, dipimpin sektor konsumsi dan tambang.

Pada perdagangan Senin (8/2) sesi siang, IHSG ditutup melemah 60,75 poin (2,41%) ke level 2.458,23. Indeks saham unggulan LQ45 juga turun 13,449 poin (2,75%) ke level 475,13.

Perdagangan di Bursa Efek Indonesia tidak terlalu ramai dengan volume transaksi tercatat hanya mencapai 1,919 miliar lembar saham, senilai Rp 1,884 triliun dan frekuensi 35.246 kali. Sebanyak 27 saham menguat, sedangkan 147 saham melemah, dan 46 saham stagnan.

Semua sektor berkontribusi signifikan pada pelemahan indeks hari ini. Dipimpin sektor konsumsi yang anjlok 3,37%, kemudian sektor tambang 3,12%, aneka industri 2,65%, kemudian perdagangan 2,58%, manufaktur 2,55%, infrasturktur 2,51%, properti 2,21%, keuangan 1,97%, industri dasar 1,38%, dan perkebunan 1,04%.

Saham-saham yang terkoreksi antara lain PT Indo Tambangraya Megah (ITMG) turun Rp 1.400 di posisi Rp 28.700, Astra International (ASII) turun Rp 1.050 menjadi Rp 33.300, United Tractor (UNTR) turun Rp 600 menjadi Rp 15.350, TB Bukit Asam (PTBA) terkoreksi Rp 600 menjadi Rp 15.550, PP London Sumatra (LSIP) melemah Rp 150 ke level Rp 8.200, Bumi Resources (BUMI) turun Rp 100 menjadi Rp 2.350, dan BRI (BBRI) turun Rp 150 menjadi Rp 7.100.

Arga Paradita Sutiono, research analyst Asia Kapitalindo Securities memperkirakan pergerakan indeks hingga penutupan sore nanti masih akan melemah. Hal ini dipicu oleh sentimen dari market regional yang negatif. Karena level 2.480 sudah ditembus, level support berikutnya adalah 2.447 dan level resistance 2.535, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (8/2).

Menurut penilaiannya, penurunan indeks saat ini adalah indikasi buble. Sebab, indeks terkoreksi tapi volume tipis. Artinya, penurunanan tersebut tidak mendapatkan dukungan dari besarnya volume transaksi. Karena itu, pergerakan indeks berikutnya masih menyisakan harapan potential upside, ujarnya.

Koreksi indeks, lanjut Arga semata karena berita negatif dari eksternal. Pemicunya, kasus gagal bayar (default ) di Yunani yang menyeret bursa Eropa ke teritori negatif. Akibatnya, mata uang gabungan negara-negara Eropa (euro) pun mengalami pelemahan tajam terhadap dolar AS.

Inilah yang memicu harga komoditas masih belum stabil dan cenderung turun sehingga memicu koreksi di sektor komoditas baik pertambangan maupun perkebunan. Harga minyak mentah dunia saat ini masih turun di level US$71. Itulah yang membuat bursa Asia turun tajam dan berimbas negatif pada IHSG ^JKSE, paparnya.

Namun, untuk pasar Indonesia sendiri, imbuh Arga, sebenarnya lebih aman. Sebab, sejak awal 2010, indeks domestik baru turun 0,9% sementara indeks Hang Seng sudah 10% dan India 9%. Menurutnya, indeks Indonesia tidak akan terkoreksi sebagaimana China dan India. Koreksi tajam di kedua negara itu karena adanya indikasi buble ekonomi, ungkapnya.

Sedangkan Indonesia sendiri, tidak ada indikasi ke arah itu. Koreksi indeks semata karena memang di sisi lain indeks domestik sendiri sudah tembus level resistance 2.600. Koreksi saat ini menemukan momentumnya karena terseret sentimen negatif dari regional, ujarnya.

Investor disarankan jangan khawatir. Sebab, secara teknikal support kuat indeks sebenarnya di level 2.480. Dalam kondisi ini, Arga menyarankan pelaku pasar agar bermain pada saham-saham defensif di sektor properti, perbankan, dan konsumsi. Menurtnya, properti masih memiliki potential upside karena baru menguat 54% di 2009, sedangkan sektor lain sudah mencapai 80%.

Saham-saham pilihannya adalah PT Indofood Sukses Makmur (INDF), PT Ciputra Development (CTRA), PT Astra Internasional (ASII), PT Bank Mandiri (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Saya sarankan masuk sekarang, tapi jangan lama-lama paling untuk satu hingga dua hari saja, pungkasnya.

Sementara Etrading securities melihat, secara teknikal, IHSG masih berpotensi mengalami rebound hari ini. Koreksi bursa membuat indeks tertekan 2.7% atau 74.244 dan tertahan di level fibonacy retracement 2506. Indeks pun telah menembus batas bawah bolinger band seperti pada Oktober dan Desember. Meski penurunan ini disertai peningkatan volume, namun dengan pola sebelumnya, penurunan ini belum merubah tren jangka pendek. IHSG berpeluang rebound hari ini, ujarnya. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.