POSISI Cina dalam pergaulan internasional makin keras dan menunjukkan sikap tak ingin lagi kompromi, belakangan ini. Puncak dari sikap itu diperlihatkannya terhadap Amerika dalam menghadapi dua isu.
Pertama, soal penjualan senjata Amerika kepada Taiwan. Dan kedua, rencana pertemuan Presiden Obama dengam Dalai Lama.
Namun sebenarnya ini bukan soal baru. Sudah sejak awal Cina selalu menganggap masalah Taiwan sebagai masalah dalam negeri, dan rencana penjualan senjata AS ke negara pulau dengan nilai US$6,3 miliar itu dianggap Beijing sebagai intervensi ke dalam masalah domestik.
Sudah lama pula Cina memberi cap kepada Dalai Lama yang menyingkir ke India sejak 1952 sebagai tokoh separatis yang mencita-citakan kemerdekaan bagi Tibet. Dalam berbagai kesempatan, Dalai Lama berkali-kali mengatakan bahwa yang dicitakannya adalah Tibet berstatus otonomi di dalam lingkungan RRC. Mungkin, bergesernya perjuangan Dalai Lama dari kemerdekaan ke hak otonomi khusus diilhami status Hong Kong dan tawaran Beijing kepada Taiwan.
Itulah yang dinamakan Daerah Khusus di bawah konsep 'satu negara dua sistem'. Namun, sebegitu jauh Beijing tak menggubris sikap lebih lunak Dalai Lama, dan tetap saja memberi mereka cap sebagai golongan separatis.
Sebenarnya gejala sikap Cina yang kelihatannya makin kaku itu sudah terlihat sejak akhir tahun lalu, khususnya setelah kunjungan resmi Obama ke Beijing, malahan satu bulan sebelum presiden Amerika itu tiba. Itu diperlihatkan oleh artikel dalam jurnal resmi Pandangan Sepekan yang menjadi bacaan para kader Partai Komunis.
Pada artikel itu, ideolog bernama Zhang Xiaotong menulis tentang Lima Segi Politik Luar Negeri Presiden Hu Jintao. Zhang mengatakan, ada lima gejala yang menjadi dasar kebijakan luar negeri yang baru dari Hu. Itulah perubahan dasar dalam situasi dunia, membangun dunia yang harmonis, bekerjasama membangun dunia, tanggung jawab bersama, dan partisipasi dalam urusan dunia.
Dalam artikel itu Zhang mengumpulkan sejumlah pernyataan Hu dan memberinya analisis. Plus berbagai bahan sebagai hasil rapat internal pimpinan Partai Komunis Cina (PKC). Zhang sampai pada kesimpulan bahwa secara historis dunia telah berubah, dan perubahan itu juga mempengaruhi hubungan Cina dengan dunia internasional serta mengubah peran Cina dalam pergaulan dunia.
Konon, kesimpulan yang mengubah sikap serta peran Cina dikemukakan kepada publik sebagai reaksi atas pernyataan Obama yang mengajak Cina bekerjasama sebagai mitra yang bertanggung jawab dalam mengatasi berbagai masalah dunia.
Dengan menyebut tentang keberhasilan Cina dalam industri, sains dan teknologi, dan sukses pembangunan ekonomi, Hu mengambil kesimpulan bahwa bangsa dan negara Cina berada di tengah dunia yang penuh tantangan dan kesempatan. Bahkan ia lebih jauh mengatakan, kesempatan yang harus digunakan ternyata jauh melebihi tantangan yang dihadapi. Itu berkat adanya 'keajaiban ekonomi' yang kini tengah dinikmati Cina.
Berdasarkan asumsi itu, Hu bersama dengan Generasi Keempat kepemimpinan Cina harus menggunakan kesempatan itu dengan secara radikal meninggalkan prinsip politik luar negeri yang dikembangkan mendiang Deng Xiaoping. Semasa hidupnya Deng menekankan pada pembangunan ekonomi dalam negeri, prinsip politik luar negeri yang low profile dan tidak mengambil posisi memimpin.
Sebenarnya prinsip yang meninggalkan warisan Deng sudah kelihatan sejak dua tahun terakhir ini. Cina tak setuju dengan resolusi PBB yang berniat menghukum Iran dan Korea Utara soal nuklir. Ia juga tak begitu antusias turut menandatangani protokol Kopenhagen dalam mengurangi emisi yang menyebabkan pemanasan global. Ia bahkan terkesan melindungi negara-negara yang di Barat diberi julukan rouge states seperti Birma dan Korea Utara.
Ini semua membuat posisi AS serba salah. Apabila Obama membatalkan penjualan senjata kepada Taiwan, ia akan mendapat cemoohan kaum oposisi Republikan sebagai tunduk kepada tekanan negara yang baru saja muncul sebagai adikuasa. Para sekutu AS juga akan mempertanyakan sampai di mana komitmen AS melindungi sekutu terhadap serangan dari luar.
AS terikat oleh Taiwan Relations Act yang berjanji melindungi negara pulau itu dari ancaman pihak ketiga (baca: Cina). Posisi Obama juga akan menghadapi posisi serbasalah soal rencana pertemuan dengan Dalai Lama.
Kalau penjualan senjata kepada Taiwan dan pertemuan dengan Dalai Lama jadi berlangsung juga, pemulihan ekonomi Amerika juga akan berada dalam tekanan. Cina telah mengeluarkan ancaman, andaikata kedua hal itu direalisasikan, ia akan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan AS yang terlibat dalam penjualan senjata kepada Taiwan. Ia mengancam akan membatalkan rencana pembelian 3770 pesawat dari Boeing dan mengalihkannya kepada Airbus.
Dalam hal ini taktik Cina, kalau berhasil, bagaikan pepatah 'membunuh dua burung dengan satu lemparan batu'. Melumpuhkan posisi Amerika sambil mengadu dombanya dengan Eropa.
Penulis adalah pengamat Cina. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !