Sabtu, 26 Mei 2012 | 20:13 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Sikap Cina yang Makin 'Kencang'
Headline
Oleh: A Dahana
web - Senin, 8 Februari 2010 | 14:54 WIB
POSISI Cina dalam pergaulan internasional makin keras dan menunjukkan sikap tak ingin lagi kompromi, belakangan ini. Puncak dari sikap itu diperlihatkannya terhadap Amerika dalam menghadapi dua isu.
Pertama, soal penjualan senjata Amerika kepada Taiwan. Dan kedua, rencana pertemuan Presiden Obama dengam Dalai Lama.
Namun sebenarnya ini bukan soal baru. Sudah sejak awal Cina selalu menganggap masalah Taiwan sebagai masalah dalam negeri, dan rencana penjualan senjata AS ke negara pulau dengan nilai US$6,3 miliar itu dianggap Beijing sebagai intervensi ke dalam masalah domestik.
Sudah lama pula Cina memberi cap kepada Dalai Lama yang menyingkir ke India sejak 1952 sebagai tokoh separatis yang mencita-citakan kemerdekaan bagi Tibet. Dalam berbagai kesempatan, Dalai Lama berkali-kali mengatakan bahwa yang dicitakannya adalah Tibet berstatus otonomi di dalam lingkungan RRC. Mungkin, bergesernya perjuangan Dalai Lama dari kemerdekaan ke hak otonomi khusus diilhami status Hong Kong dan tawaran Beijing kepada Taiwan.
Itulah yang dinamakan Daerah Khusus di bawah konsep 'satu negara dua sistem'. Namun, sebegitu jauh Beijing tak menggubris sikap lebih lunak Dalai Lama, dan tetap saja memberi mereka cap sebagai golongan separatis.
Sebenarnya gejala sikap Cina yang kelihatannya makin kaku itu sudah terlihat sejak akhir tahun lalu, khususnya setelah kunjungan resmi Obama ke Beijing, malahan satu bulan sebelum presiden Amerika itu tiba. Itu diperlihatkan oleh artikel dalam jurnal resmi Pandangan Sepekan yang menjadi bacaan para kader Partai Komunis.
Pada artikel itu, ideolog bernama Zhang Xiaotong menulis tentang Lima Segi Politik Luar Negeri Presiden Hu Jintao. Zhang mengatakan, ada lima gejala yang menjadi dasar kebijakan luar negeri yang baru dari Hu. Itulah perubahan dasar dalam situasi dunia, membangun dunia yang harmonis, bekerjasama membangun dunia, tanggung jawab bersama, dan partisipasi dalam urusan dunia.
Dalam artikel itu Zhang mengumpulkan sejumlah pernyataan Hu dan memberinya analisis. Plus berbagai bahan sebagai hasil rapat internal pimpinan Partai Komunis Cina (PKC). Zhang sampai pada kesimpulan bahwa secara historis dunia telah berubah, dan perubahan itu juga mempengaruhi hubungan Cina dengan dunia internasional serta mengubah peran Cina dalam pergaulan dunia.
Konon, kesimpulan yang mengubah sikap serta peran Cina dikemukakan kepada publik sebagai reaksi atas pernyataan Obama yang mengajak Cina bekerjasama sebagai mitra yang bertanggung jawab dalam mengatasi berbagai masalah dunia.
Dengan menyebut tentang keberhasilan Cina dalam industri, sains dan teknologi, dan sukses pembangunan ekonomi, Hu mengambil kesimpulan bahwa bangsa dan negara Cina berada di tengah dunia yang penuh tantangan dan kesempatan. Bahkan ia lebih jauh mengatakan, kesempatan yang harus digunakan ternyata jauh melebihi tantangan yang dihadapi. Itu berkat adanya 'keajaiban ekonomi' yang kini tengah dinikmati Cina.
Berdasarkan asumsi itu, Hu bersama dengan Generasi Keempat kepemimpinan Cina harus menggunakan kesempatan itu dengan secara radikal meninggalkan prinsip politik luar negeri yang dikembangkan mendiang Deng Xiaoping. Semasa hidupnya Deng menekankan pada pembangunan ekonomi dalam negeri, prinsip politik luar negeri yang low profile dan tidak mengambil posisi memimpin.
Sebenarnya prinsip yang meninggalkan warisan Deng sudah kelihatan sejak dua tahun terakhir ini. Cina tak setuju dengan resolusi PBB yang berniat menghukum Iran dan Korea Utara soal nuklir. Ia juga tak begitu antusias turut menandatangani protokol Kopenhagen dalam mengurangi emisi yang menyebabkan pemanasan global. Ia bahkan terkesan melindungi negara-negara yang di Barat diberi julukan rouge states seperti Birma dan Korea Utara.
Ini semua membuat posisi AS serba salah. Apabila Obama membatalkan penjualan senjata kepada Taiwan, ia akan mendapat cemoohan kaum oposisi Republikan sebagai tunduk kepada tekanan negara yang baru saja muncul sebagai adikuasa. Para sekutu AS juga akan mempertanyakan sampai di mana komitmen AS melindungi sekutu terhadap serangan dari luar.
AS terikat oleh Taiwan Relations Act yang berjanji melindungi negara pulau itu dari ancaman pihak ketiga (baca: Cina). Posisi Obama juga akan menghadapi posisi serbasalah soal rencana pertemuan dengan Dalai Lama.
Kalau penjualan senjata kepada Taiwan dan pertemuan dengan Dalai Lama jadi berlangsung juga, pemulihan ekonomi Amerika juga akan berada dalam tekanan. Cina telah mengeluarkan ancaman, andaikata kedua hal itu direalisasikan, ia akan menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan AS yang terlibat dalam penjualan senjata kepada Taiwan. Ia mengancam akan membatalkan rencana pembelian 3770 pesawat dari Boeing dan mengalihkannya kepada Airbus.
Dalam hal ini taktik Cina, kalau berhasil, bagaikan pepatah 'membunuh dua burung dengan satu lemparan batu'. Melumpuhkan posisi Amerika sambil mengadu dombanya dengan Eropa.

Penulis adalah pengamat Cina. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
4 Komentar
edy
Jumat, 12 Maret 2010 | 10:43 WIB
Wah ga benar kalo China membela Iran karena minyaknya, ekspor minyak Iran ke China itu relatif kecil bung, pemasok utama minyak China itu yang betul Arab Saudi dan kedua Angola, China membela negara berkembang manapun yang mendapat tekanan negara Barat yang sewenang-wenang.
will
Sabtu, 13 Februari 2010 | 10:58 WIB
Harusnya anda sadar background China membela Iran, karena di Timteng, sisa Iran yg masih bersedia memasok mayoritas kebutuhan minyak untuk industri di China. Sedangkan negara timteng lain lebih milih jual ke negara barat. So kalo suruh China mendukung keputusan barat untuk memberi sanksi pada Iran, sama aja suruh China menyusahkan diri sendiri. So for wat??
new World
Selasa, 9 Februari 2010 | 12:22 WIB
Amerika lebih parah. India yang sering uji coba nuklir, malahan melakukan kerja sama nuklir. amerika itu kayak diktator, jd siapa yang menjadi musuh dia, kalo negara tersebut mau maju. pasti di tekan2 terus. karena mereka sebagai oposisi bagi AS di PBB
Atanose
Senin, 8 Februari 2010 | 19:58 WIB
Sangat tidak bijaksana kalau bapak selama ini selalu menilai China bersifat "kaku" ato "tidak lunak". Mengapa Bapak tidak menyimpulkan Amerikalah yang kaku karena selalu mengungkit masalah yang sama. Wilayah Xizhang memang dari dulu dalam kesatuan RRC dan diakui Internasional. Dalai Lama dulu seorang pemuka agama tapi kalau dia memimpin pemberontakan, dia tidak sepantasnya dinilai pemuka agama lagi, harus bisa pisahkan agama dan politik. Siapa yang menilai Xizhang lebih jelek dari dulu? silakan Bapak ke Xizhang lihat dengan mata sendiri lalu baru analisa. Taiwan juga sama, dari dulu dalam kesatuan China, karena perang sipil lalu yang kalah(Chiang Kai Sek) melarikan diri ke Taiwan dan membentuk kekuasan sendiri, ini cuma ambisi pribadi (Chiang Kai Sek) dan ketidaksportifan dia (Chiang Kai Sek). Apakah Bapak ingin China seperti Indonesia dengan melepaskan Timor Timur begitu saja, setiap bangsa harus junjung tinggi kesatuan. Apa yang dilakukan China ini 100% tepat karena mempertahankan kesatuan bangsanya. Amerika sendiri aja selalu membungkam pendemo Hawaiian yang ingin memerdekakan diri.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.