Minggu, 27 Mei 2012 | 15:22 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Produksi Minyak 2010 Ditargetkan 965 Rb Barel
Headline
Istimewa
Oleh:
web - Senin, 8 Februari 2010 | 15:29 WIB
INILAH.COM, Bojonegoro - Produksi minyak secara nasional pada tahun 2010, dari 65 kontraktor kerja sama (KKS) produksi ditargetkan bisa mencapai 965.000 barel per hari.

"Kami harus optimistis target produksi minyak secara nasional pada tahun 2010 ini, bisa tercapai," kata Kepala Divisi Internal BP Migas, Amir Hamzah, di Bojonegoro, Senin (8/2).

Dia yang didampingi Kepala BP Jawa, Papua, Maluku (Javalu), Hamdani menjelaskan, produksi minyak secara nasional, pada tahun 2009 lalu ditargetkan mencapai 949.200 barel per hari dari 65 KKS produksi yang ada di Indonesia.

Produksi minyak secara nasional tersebut, terbesar berasal dari Kawasan Barat Indonesia, mulai Sumatra, Jawa, termasuk dari lapangan minyak Sukowati dan minyak Blok Cepu di Bojonegoro.

Pada tahun 2009 lalu, lanjutnya, hambatan peningkatan produksi minyak secara nasional terjadi akibat adanya berbagai bencana alam. Akibatnya, produksi minyak secara nasional hanya mencapai 944.000 barel per hari. "Untuk mengejar target produksi minyak secara nasional pada tahun 2010 ini, dengan melakukan pembenahan berbagai fasilitas produksi minyak yang rusak dilanda berbagai bencana," tuturnya.

Menurut dia, di Indonesia tercatat ada 232 KKS, namun yang berproduksi baru 65 KKS. Lainnya, kontraktor yang terikat dengan KKS, masih terus berusaha untuk mencari potensi cadangan minyak. "Mereka tersebar di seluruh Indonesia dan masih terus berusaha untuk mencari potensi kandungan minyak," katanya menjelaskan.

Menjawab pertanyaan, Amir Hamzah menyatakan, munculnya bencana di industri migas harus disikapi dengan bijaksana. Pertimbanganya, potensi kandungan minyak yang ada di Indonesia tidak bertambah, sementara jumlah penduduk semakin bertambah, sehingga industri minyak di Indonesia harus bisa berdampingan dengan masyarakat.

Dia mencontohkan, di China dan AS, industri minyak berada di tempat keramaian, mulai pertokoan hingga pemukiman masyarakat.
"Idealnya, industri minyak memang harus jauh dari pemukiman warga, cuma kenyataannya penduduk semakin tahun semakin bertambah," paparnya memberikan alasan.

Yang jelas, di industri migas bekerja dengan standar yang ditentukan sangat sulit. Dengan demikian, lanjutnya, adanya kejadian keracunan gas H2S (hidrogen sulfida) di lapangan minyak Sukowati dan Blok Cepu di Bojonegoro, dinilai masih dalam batas kewajaran.

Hanya saja, masih menurut dia, standar keamanan tetap harus dijaga dengan selalu memperhatikan amdal pengelolaan industri minyak di Bojonegoro. "Bagaimanapun juga amdal harus selalu diperbaharui, sebab warga di kawasan industri migas selalu bertambah," katanya menambahkan. [*/cms]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.