INILAH.COM, Jakarta - Pergerakkan IHSG
pada perdagangan Senin (8/2) ditutup masih tertekan yang turun 43,4 poin (1,72%) menjadi 2.475,57 karena masih tertekan oleh krisis di Eropa. Menurut analis saham Ciptadana Securities, Syaiful Adrian, ancaman gagal bayar yang dialami Yunani, Portugal dan Spanyol menghawatirkan terjadinya krisis berikutnya. "Tekanan ini diperkirakan akan berlangsung dalam 2 pekan ke depan karena belum ada sentimen positif yang akan masuk. Indeks diperkirakan tidak akan mampu bertahan di atas 2.000," katanya kepada
INILAH.COM Senin (8/2).
Kondisi ini ternyata cukup kuat menekan bursa sehingga data yang positif di AS juga tidak dapat menggeser indek untuk berbalik arah. Hal ini menjadi sentimen negatif bagi bursa regional. Apalagi sentimen dari China tentang pemangkasan leanding masih menjadi sentimen negatif.
Untuk volume perdagangan mencapai 4,3 miliar unit saham dengan nilai transaksi Rp4,16 triliun dengan 37 saham naik, 155 saham turun dan 60 saham stagnan. Indeks saham JII

turun 8,6 poin ke level 403, namun indeks saham LQ45

turun 9,4 poin ke level 479. Untuk sektor yang tertekan paling banyak adalah sektor pertambangan 3,2 poin ke 2.136 dan sektor perkebunan turun 23 poin ke 1.794.
Adapun saham-saham yang naik adalah Bank Tabungan Pensiunan Nasional (
BTPN) naik Rp150 ke Rp5.500, Indocement Tunggal Prakasa (
INTP) naik Rp100 ke Rp12.950, Dian Swastatika Sentosa (
DSSA) naik Rp50 ke Rp5.800, Bayan Resources (
BYAN) naik Rp50 ke Rp5.700.
Sementara itu, saham-saham yang turun adalah Indo Tambangraya Megah (
ITMG) turun Rp1.150 ke Rp28.950, Gudang Garam (
GGRM) turun Rp900 ke Rp24.100, Astra International (
ASII) turun Rp650 ke Rp33.700, United Tractors (
UNTR) turun Rp600 ke Rp15.350, Tambang Batubara Bukit Asam (
PTBA) turun Rp600 ke Rp15.550, Unilever Indonesia (
UNVR) turun Rp400 ke Rp10.800. [hid]