inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Indeks MSCI Asia Pasifik Masih Muram

Headline
Istimewa
Oleh: Vina Ramitha
Senin, 8 Februari 2010 | 21:03 WIB
INILAH.COM, Tokyo - Kekhawatiran masalah defisit Eropa terus menyeret turun bursa Asia. Indeks MSCI Asia Pasifik merosot, hingga 10% di bawah level tertinggi pada Januari lalu.

Indeks MSCI APAC pada Selasa (8/2), terpantau turun 0,5% ke level 114,06. Rasio perbandingannya adalah dua saham turun untuk setiap satu saham yang menguat. Indeks ini anjlok selama tiga hari berturut-turut dan telah kehilangan 10% dari nilai tertinggi 17 bulan terakhir pada 15 Januari lalu.

Kawasan Asia Pasifik memang telah memasuki koreksi, menyusul kekhawatiran perekonomian besar seperti China dan India, pasca kebijakan pengatatan likuiditas bank sentral kedua negara tersebut sebagai upaya menekan inflasi. Kesulitan sejumlah negara Eropa seperti Yunani, Spanyol, dan Portugal dalam mengatasi defisit, juga menambah sentimen negatif.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 43,404 poin (1,72%) ke level 2.475,572, Indeks Hang Seng turun 114,19 (0,58%) ke level 19.550,89, indeks Nikkei 225 turun 105,27 poin (1,05%) menjadi 9.951,82, indeks kospi di Seoul turun 14,33 poin (0,91%) ke level 1.552,79, dan indeks Shanghai melemah 4,23 poin (0,14%) ke level 2.935,17.

Analis di AMP Capital Investors Sydney Nadar Naeimi memprediksi, koreksi ini tidak akan berlangsung lama. Namun, ia mengakui, sentimen tersebut terus menjadi ganjalan bagi bursa Asia. Meski tidak tenang, pemulihan global masih terus berjalan," katanya kepada Bloomberg, Senin (8/2).

Berdasarkan pertemuan kelompok tujuh negara industri termaju (G7) di Kanada, pejabat Eropa mengatakan mereka akan memastikan negara yang mengalami defisit anggaran terbesar di kawasan itu, Yunani, mengatasi masalah. Menkeu Prancis Christine Lagarde mengatakan, Uni Eropa telah menyetujui pentingnya rencana Yunani untuk mengurangi defisit mereka tanpa bantuan dari negara lain di komunitas tersebut.

Meski begitu, analis Argo Investments Ltd. di Adelaide, Chris Hall merasa, pasar masih nervous. "Yunani hanyalah bagian dari masalah besar. Defisit anggaran akan meluas dengan sangat mengkhawatirkan," katanya.

Ia mengingatkan pekan lalu MSCI sempat jatuh 1,8%, memasuki penurunan di pekan ketiganya. Artinya, berdasarkan data Bloomberg, harga rata-rata saham Asia sudah terpangkas 18 kali estimasi pendapatan, terendah sejak Februari 2009.

Hiroshi Morikawa dari MU Investments Co. juga menyatakan, pasar sangat khawatir atas kondisi Yunani, dengan mempertayakan siapa yang akan menyelamatkan negara itu dan bagaimana caranya. Reaksi pasar itu menurutnya berlebihan. "Akibatnya euro jatuh terhadap yen dan ini tak bisa dihindari," katanya.

Saham elektronik mencatat penurunan yang paling besar di MSCI. Saham Panasonic yang merupakan pembuat televisi plasma terbesar dunia, turun 5,3% ke 1.318 yen. Perusahaan ini merugi hingga 14,6 miliar yen (US$164 juta) selama tiga kuartal terakhir 2009. Padahal setahun sebelumnya periode yang sama mereka mengantongi keuntungan 65,4 miliar.

Saham Casio turun 5,3% ke 625 yen per lembar saham, setelah menaikkan prediksi kerugian tahunan dari 7 miliar ke 22 miliar yen. Demikian pula vendor elektronik HTC yang turun 6,7% di Taipei setelah kemungkinan pemangkasan harga smartphone hingga 40% untuk mencari pangsa pasar. CFO HTC Cheng HUi-ming menyangkal prosentase itu tapi ia tak menyangkal pemangkasan harga ponsel pintar vendor tersebut. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.