INILAH.COM, Jakarta Rencana kedatangan Presiden Obama ke Indonesia, Maret mendatang harus dimaknai juga secara ekonomi. Yaitu, momentum peningkatan investasi dan perdagangan dengan AS.
Pengamat ekonomi, David Sumual mengatakan, sejak krisis 1998 perdagangan Indonesia-AS menurun. Hal itu dipicu banyaknya keluhan terkait biaya ekonomi tinggi dan infrastruktur. Menurutnya, kedatangan Presiden AS Barack Obama harus dimanfaatkan sebagai momentum peningkatan investasi dan perdagangan.
Apalagi, Obama memiliki kedekatan sentimental dengan Indonesia. Presiden negara adidaya itu pernah tinggal di Tanah Air pada era 70-an. Kedatangan Obama seharusnya dimanfaatkan, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Senin (8/2).
Data total impor Indonesia dari AS untuk Desember 2009 hanya mencapai 16% sedangkan ekspor non-migas hanya 9,5%. Padahal, 2008 lalu mencapai 10,8%. Padahal, 25% porsi ekonomi dunia ada di AS. Ekspor kita ke AS semakin turun saja dalam sepuluh tahun terakhir, ujarnya.
Pada saat yang sama, banyak perusahaan dari AS berencana investasi di Indonesia. Namun, hal itu sebatas rencana dan tidak ada implementasinya. Karena itu, dengan kedatangan Obama, Indonesia harus pandai negosiasi.
David mencontohkan Caterpillar yang meminta taxholiday. Begitu juga dengan sebagian besar perusahaan AS yang meminta insentif fiskal. Menurutnya hal itu bisa diberikan asalkan berlaku umum. Jangan hanya berlaku bagi satu perusahaan saja. Sebab, dari sisi invetasi Indonesia berharap dari manapun negaranya, imbuhnya.
Dengan kedatangan Obama, hubungan ekonomi bilateral AS-Indonesia bisa meningkat lagi. Sebab, AS sendiri saat ini masih sangat protektif terutama untuk produk-produk pertanian seperti crude palm oil (CPO), buah-buahan, dan rempah-rempah. Apalagi, kebiasaan investor asal AS dan Eropa masuk belakangan ke Indonesia, ungkapnya.
Sebab, negara-neagra Asean justru lebih mengenal keadaan Indonesia. Sedangkan Eropa lebih konsentrasi untuk investasi ke negara-negara dekat Eropa Timur. AS sendiri lebih banyak ke China dan Amerika Latin. Besarnya ekspor ke AS lebih didominasi China dan Jepang, timpalnya.
Sedangkan, Indonesia lebih banyak mengekspor bahan mentah ke China dan Korea yang merupakan production houses. Indonesia seharusnya selain mengekspor bahan mentah seperti migas tapi juga manufaktur.
Sebelumnya, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan mengungkapkan, dari sisi potensi, investasi AS di Indonesia mencapai nilai US$1-2 miliar. Angka itu bisa menciptakan lapangan kerja untuk 10-20 ribu orang, ucapnya.
Tapi, David kembali mengatakan jika melihat porsi investasi dan ekspor-impor Indonesia-AS mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir. Peran tersebut digantikan Jepang, China dan Eropa. Perdagangan Indonesia dan AS cenderung menurun, tukasnya.
David mensinyalir AS lebih mengutamakan isu domestik sehingga agak menjauh dari Indonesia sejak pemerintah George W Bush. Tapi, di dalam negeri pun yang perlu diperbaiki bukan hanya insentif fiskal. Banyak lembaga baik UI dan UGM yang menyatakan insentif fiskal bukanlah satu hal yang utama untuk merangsang masuknya investor.
Persoalan kemudahan dalam melakukan bisnis mulai dari buka usaha sampai operasional perusahaan yang saat ini masih high cost economy harus menjadi perhatian utama. Jadi, pertemuan dengan Obama bukan hanya persoalan politik tapi juga ekonomi, pungkasnya. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !