INILAH.COM, New York - Lebih dari 8.000 perempuan di Republik Demokratik Kongo (DRC) mengalami pemerkosaan sepanjang tahun 2009, yang ditengarai dilakukan oleh faksi-faksi yang berperang, baik tentara pemberontak maupun tentara pemerintah.
Menurut laporan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Dana Populasi (UNFPA), Senin (7/2), tentara pemberontak suku Hutu (FDLR) diyakini sebagai pihak yang paling banyak melakukan pemerkosaan.
"(Tapi) anggota-anggota tentara nasional (FARDC) juga melakukan kekerasan seksual di propinsi Kivu Utara dan Selatan," kata pernyataan UNFPA.
Badan-badan kemanusiaan memang memuji upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah DRC untuk mengakhiri praktek pemerkosaan oleh tentaranya.
UNFPA melihat Pemerintah masih perlu berbuat banyak dalam memastikan jangan sampai mereka yang bersalah lolos dari hukuman.
Republik Demokratik Kongo (DRC) --untuk membedakan dengan negara tetangganya Republik Kongo, merupakan negara yang telah bertahun-tahun dilanda perang saudara.
Dalam lima tahun terakhir, konflik yang terus bergejolak di negara bekas jajahan Belgia tersebut, melibatkan tentara Pemerintah DRC --yang didukung Zimbabwe, Angola dan Namibia-- dengan milisi pemberontak --yang didukung Rwanda dan Uganda.
Kendati kesepakatan damai dan pembentukan sebuah pemerintahan transisi telah ditandatangani pada tahun 2003, pertikaian terus berlangsung, terutama di wilayah bagian timur.
Di wilayah itu, perkosaan dan kekerasan seksual lainnya terhadap perempuan kerap terjadi dan disebut-sebut merupakan yang terburuk di dunia.
Konflik berdarah selama lima tahun terakhir dilaporkan telah menewaskan jutaan warga, termasuk mereka yang terkena dampak perang hingga mengalami kelaparan dan didera berbagai penyakit. [*/bar]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !